Mengikuti Jejak-Nya
Bab Tujuh: Rachel dan Alexander Berubah Haluan
Rachel lega bisa meloloskan diri dan menyendiri. Sebuah rencana perlahan mulai terbentuk dalam benaknya, dan ia ingin menyendiri untuk memikirkannya baik-baik. Namun, belum lagi ia berjalan dua blok, ia jengkel mendapati Rollin Page melangkah di sampingnya.
“Maaf mengganggu lamunanmu, Nona Winslow, tapi kebetulan tujuanku searah denganmu dan berpikir barangkali kau tidak keberatan. Sebenarnya, aku sudah berjalan bersamamu sepanjang satu blok, dan kau tak keberatan.”
“Aku tak melihatmu,” sahut Rachel singkat.
“Aku takkan mempermasalahkannya andai kau sesekali saja memikirkanku,” cetus Rollin tiba-tiba. Ia mengisap cerutunya untuk kali terakhir dengan gelisah, mencampakkannya ke jalanan, lalu terus melangkah dengan wajah memucat.
Rachel terkejut, kendati tidak sampai terperanjat. Ia mengenal Rollin sejak mereka masih kanak-kanak. Ada suatu masa tatkala mereka saling memanggil nama depan dengan begitu akrab. Namun, belakangan ini, sesuatu dalam sikap Rachel telah mengakhiri kebiasaan itu. Ia sudah terbiasa dengan upaya Rollin yang blak-blakan dalam melontarkan pujian, dan adakalanya merasa geli karenanya. Akan tetapi, hari ini, sejujurnya ia berharap Rollin berada di mana saja asalkan jangan di sini.
“Pernahkah kau memikirkanku, Nona Winslow?” tanya Rollin setelah terdiam sejenak.
“Oh, ya, cukup sering!” kata Rachel sambil tersenyum.
“Apakah kau sedang memikirkanku sekarang?”
“Ya. Maksudku—ya—begitulah.”
“Apa yang kaupikirkan?”
“Kau ingin tahu yang sejujurnya?”
“Tentu saja.”
“Aku sedang berpikir betapa kuharap kau tidak ada di sini.” Rollin menggigit bibirnya dan tampak muram.
“Rachel, aku tahu mestinya aku tak boleh begini, tapi aku harus mengatakannya! Kau tahu perasaanku. Apa yang membuatmu memperlakukanku seperti ini? Padahal dulu kau agak menyukaiku.”
“Aku menyukaimu? Tentu saja dulu kita akrab sewaktu masih anak-anak. Namun, sekarang kita sudah lebih dewasa.”
Rachel masih berbicara dengan nada ringan dan santai yang ia pakai sejak pertama kali ia jengkel melihat kehadiran Rollin. Pikirannya masih agak tersita oleh rencananya, yang terganggu oleh kemunculan Rollin yang mendadak.
Mereka berjalan sesaat dalam diam. Banyak orang di jalan raya itu. Di antara orang banyak yang lalu-lalang itu ada Jasper Chase. Ia melihat Rachel dan Rollin, lalu membungkuk memberi salam ketika mereka melewatinya. Rollin menatap Rachel lekat-lekat.
“Andai saja aku Jasper Chase. Barangkali aku akan punya sedikit peluang,” katanya muram.
Rona merah menjalari pipi Rachel tanpa bisa ditahannya. Ia tak menimpali apa pun dan sedikit mempercepat langkahnya. Rollin tampak bertekad bulat untuk mengatakan sesuatu, dan Rachel merasa tak berdaya mencegahnya. Lagi pula, pikirnya, pria itu sebaiknya mengetahui perasaannya sebenarnya sekarang daripada menundanya.
“Kau tahu betul, Rachel, bagaimana perasaanku terhadapmu. Apakah aku tak punya harapan sama sekali? Aku bisa membahagiakanmu. Sudah bertahun-tahun lamanya aku mencintaimu—”
“Wah, memangnya kaukira berapa usiaku sekarang?” sela Rachel dengan tawa gugup. Ketenangan sikapnya yang biasa mendadak goyah.
“Kau tahu apa maksudku,” lanjut Rollin bersikeras. “Dan kau tak berhak menertawakanku hanya karena aku ingin menikahimu.”
“Aku tak menertawakanmu! Tapi sia-sia saja kau berbicara, Rollin,” kata Rachel setelah ragu sejenak, lalu menyebut namanya dengan tulus dan wajar sehingga Rollin tak dapat mengartikannya melebihi keakraban antar-keluarga. “Itu tak mungkin terjadi.” Batinnya masih agak guncang lantaran menerima lamaran di jalan besar seperti ini. Kendati demikian, kebisingan di jalan dan trotoar membuat percakapan mereka terlindungi, seakan-akan mereka tengah berada di dalam rumah.
“Mungkinkah—maksudku—apakah menurutmu—kalau kau memberiku waktu, aku bisa...”
“Tidak! tandas Rachel. Ia berbicara dengan tegas; barangkali, meski tak bermaksud, nada suaranya terdengar terlalu keras, pikirnya.
Mereka terus melangkah untuk beberapa saat tanpa berkata sepatah kata pun. Rumah Rachel sudah semakin dekat, dan ia ingin segera mengakhiri situasi itu.
Ketika mereka membelok dari jalan besar ke salah satu ruas jalan yang lebih sepi, Rollin tiba-tiba berbicara dengan sikap lebih gagah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ada nada wibawa dalam suaranya, sesuatu yang terasa baru bagi Rachel.
“Nona Winslow, aku memintamu menjadi istriku. Adakah setitik harapan bagiku bahwa suatu hari kau akan bersedia?”
“Tidak sedikit pun.” Rachel menjawab dengan pasti.
“Maukah kau memberitahuku alasannya?” Ia mengajukan pertanyaan itu seakan ia berhak memperoleh jawaban jujur.
“Karena perasaanku padamu bukanlah perasaan yang seharusnya dimiliki seorang wanita terhadap pria yang akan dinikahinya.”
“Dengan kata lain, kau tak mencintaiku?”
“Tidak, dan aku takkan bisa mencintaimu.”
“Mengapa?” Itu pertanyaan yang luar biasa, dan Rachel agak terkejut Rollin menanyakannya.
“Karena—” ia ragu sejenak, takut kalau-kalau ia berbicara terlalu banyak dalam upayanya menyampaikan kebenaran yang sejujur-jujurnya.
“Katakan saja mengapa. Kau tak mungkin lebih menyakitiku daripada yang sudah kaulakukan.”
“Baiklah, aku tak mencintaimu dan tak bisa mencintaimu karena kau tak punya tujuan hidup. Apa yang pernah kauperbuat untuk membuat dunia ini jadi lebih baik? Kau menghabiskan waktumu di kelab-kelab, foya-foya, jalan-jalan, dan bermewah-mewah. Apa yang menarik dari kehidupan semacam itu bagi seorang wanita?”
“Kurasa tidak banyak,” sahut Rollin disertai tawa getir. “Meski begitu, aku tak merasa diriku lebih buruk dibanding pria-pria lain di sekitarku. Aku tidak sebobrok sebagian mereka. Terima kasih telah memberi tahu alasanmu.”
Ia mendadak berhenti, membuka topinya, membungkuk dengan hormat, lalu berbalik pergi. Rachel meneruskan langkah menuju rumahnya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, batinnya bergolak oleh peristiwa yang begitu tak terduga menerobos jalan hidupnya.
Setelah ada waktu untuk merenung, ia justru merasa bersalah atas penghakiman yang baru saja ia katakan kepada Rollin Page. Memangnya apa tujuan hidup yang ia miliki? Ia juga melanglang buana ke luar negeri dan belajar musik di bawah bimbingan salah seorang guru ternama di Eropa. Ia pulang ke Raymond dan setahun belakangan ini bernyanyi di paduan suara Gereja Pertama. Gajinya sangat memadai. Hingga hari Minggu dua pekan lalu, ia sungguh merasa puas dengan dirinya sendiri dan dengan kedudukannya. Ia turut mengamini ambisi ibunya, serta membayangkan kejayaan yang kian gemilang di belantika musik. Karier apa lagi yang terbentang di hadapannya selain jalan yang biasa ditempuh setiap penyanyi?
Ia kembali mengajukan pertanyaan itu. Dengan mengingat perbincangannya dengan Rollin tadi, ia bertanya-tanya apakah ia sendiri memiliki tujuan yang sungguh mulia dalam hidupnya. Apa yang akan Yesus lakukan? Ada kekayaan besar dalam suaranya. Ia menyadari itu, bukan sebagai kebanggaan pribadi atau keangkuhan profesi, melainkan semata-mata sebagai sebuah kenyataan. Dan ia harus mengakui bahwa hingga dua pekan lalu, ia berniat menggunakan suaranya untuk mencari uang serta mendapatkan decak kagum dan tepuk tangan pendengar. Bukankah tujuan semacam itu, jika dipikir-pikir, tidak jauh lebih mulia dibanding apa yang dikejar oleh Rollin Page?
Cukup lama ia duduk termenung dalam kamarnya, sampai akhirnya ia turun ke lantai bawah, bertekad untuk berbicara jujur kepada ibunya perihal tawaran kelompok musikal tersebut serta rencana baru yang perlahan mulai terbentuk dalam benaknya. Ia sudah pernah berbicara dengan ibunya sekali. Ia tahu bahwa sang ibu mengharapkan Rachel menerima tawaran itu dan merintis karier gemilang sebagai biduanita sekuler.
“Ibu,” kata Rachel, langsung ke pokok persoalan, meski sebenarnya ia amat takut, “Aku sudah memutuskan untuk tidak bergabung dengan kelompok musikal itu. Aku punya alasan yang kuat.”
Nyonya Winslow adalah seorang bertubuh besar dan rupawan, gemar berkawan, berambisi meraih kehormatan dalam masyarakat, dan—menurut pandangannya sendiri tentang keberhasilan—mengabdi sepenuhnya pada keberhasilan anak-anaknya. Putra bungsunya, Louis, yang dua tahun lebih muda dari Rachel, akan segera lulus dari akademi militer pada musim panas ini. Sementara itu, ia dan Rachel berdua saja di rumah itu. Ayah Rachel, seperti ayah Virginia, telah meninggal ketika keluarga itu berada di luar negeri. Seperti Virginia, di bawah pedoman perilaku baru ini, ia mendapati dirinya bertentangan dengan lingkaran terdekat keluarganya sendiri. Nyonya Winslow menunggu Rachel melanjutkan kata-katanya.
“Ibu masih ingat janji yang kubuat dua pekan lalu?”
“Janji Pdt. Maxwell?”
“Bukan, janjiku. Ibu tahu apa isi janji itu, bukan?”
“Kira-kira Ibu tahu. Tentu saja semua jemaat ingin meneladani Kristus dan mengikut Dia, sejauh itu selaras dengan keadaan zaman sekarang. Tapi apa hubungannya itu dengan keputusanmu soal kelompok musikal itu?”
“Sangat berhubungan. Setelah bertanya, ‘Apa yang akan Yesus lakukan?’ dan memohon hikmat dari sumber segala kebenaran, aku terpaksa mengakui bahwa aku tak percaya Yesus, jika dalam posisiku, akan memakai suara ini untuk hal itu.”
“Mengapa? Apakah ada yang salah dengan karier semacam itu?”
“Tidak, kurasa aku tak bisa mengatakan ada yang salah.”
“Apakah kau berani menghakimi orang lain yang menyanyi seperti ini? Apakah kau berani berkata mereka melakukan apa yang takkan Kristus lakukan?”
“Ibu, kuharap Ibu memahamiku. Aku tak menghakimi siapa pun. Aku tak menyalahkan penyanyi profesional mana pun. Aku hanya sedang menentukan jalan hidupku sendiri. Menurut pertimbanganku, aku memiliki keyakinan teguh bahwa Yesus akan melakukan hal yang lain.”
“Hal lain apa?” Nyonya Winslow belum kehilangan kesabarannya. Ia tak memahami apa yang sedang terjadi, tak pula memahami Rachel yang ada di tengah-tengah situasi itu. Namun, ia sangat berharap jalan hidup putrinya secemerlang bakat alami yang dimilikinya. Ia yakin, apabila gejolak religius yang luar biasa di Gereja Pertama itu telah reda, Rachel akan melanjutkan kehidupannya di hadapan publik seturut kehendak keluarga. Ia sama sekali tidak siap mendengar perkataan Rachel selanjutnya.
“Apa? Sesuatu yang akan melayani sesama manusia di tempat di mana pelayanan nyanyian paling dibutuhkan. Ibu, aku telah membulatkan hati untuk menggunakan suaraku sedemikian rupa sehingga jiwaku sendiri puas bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang lebih baik daripada menyenangkan hadirin yang gemerlap, mengumpulkan uang, atau sekadar memuaskan kecintaanku pada bernyanyi. Aku akan melakukan sesuatu yang memberiku kepuasan batin ketika bertanya: ‘Apa yang akan Yesus lakukan?’ Aku tak merasa puas, dan takkan pernah bisa puas, jika membayangkan diriku bernyanyi demi meniti karier sebagai penyanyi konser.”
Rachel berbicara dengan semangat dan kesungguhan yang mengejutkan ibunya. Namun, Nyonya Winslow kini marah, ia tak pernah berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Itu tak masuk akal! Rachel, kau sekarang fanatik! Apa yang bisa kaulakukan?”
“Sejak dulu, dunia ini dilayani oleh orang-orang yang memberikan talenta mereka cuma-cuma sebagai sebuah persembahan. Mengapa aku, hanya karena dikaruniai talenta alami, harus serta-merta memasang label harga atas talenta itu, dan mengeruk sebanyak mungkin uang darinya. Ibu sendiri yang selama ini mengajariku untuk selalu memandang karier musik dari segi keberhasilan materi dan kedudukan sosial. Sejak membuat janji dua pekan lalu, aku tak bisa membayangkan Yesus bergabung dengan kelompok musikal untuk melakukan apa yang mesti kulakukan dan menjalani hidup yang mesti kujalani seandainya aku bergabung dengan kelompok itu.”
Nyonya Winslow bangkit berdiri lalu duduk kembali. Dengan susah payah ia menenangkan diri.
“Lalu, apa yang akan kaulakukan? Kau belum menjawab pertanyaan Ibu.”
“Untuk sementara ini, aku akan tetap bernyanyi di gereja. Aku sudah berjanji untuk bernyanyi di sana sepanjang musim semi ini. Pada hari kerja, aku akan bernyanyi di kebaktian Salib Putih, di bawah sana, di The Rectangle.”
“Apa! Rachel Winslow! Sadarkah kau akan apa yang kau katakan? Tahukah kau orang macam apa yang ada di sana?”
Rachel nyaris menciut di hadapan ibunya. Sesaat ia mundur dan terdiam. Tapi kemudian ia berkata dengan teguh: “Aku tahu betul. Justru karena itulah aku ke sana. Pak dan Bu Gray telah melayani di sana selama beberapa pekan ini. Baru pagi ini aku mendengar bahwa mereka membutuhkan penyanyi dari gereja untuk membantu mereka dalam kebaktian. Mereka menggunakan tenda. Tempat itu berada di bagian kota yang paling membutuhkan pelayanan Kristen. Aku akan menawarkan bantuan kepada mereka. Ibu!” seru Rachel dengan ungkapan penuh semangat pertama hari itu, “Aku ingin melakukan sesuatu yang menuntut pengorbanan diriku. Aku tahu Ibu takkan memahamiku. Namun, jiwaku lapar untuk menderita demi suatu perkara yang mulia. Apa yang telah kita perbuat sepanjang hidup kita bagi orang-orang yang menderita dan bergelimang dosa di Raymond? Seberapa banyak kita telah menyangkal diri atau merelakan kenyamanan dan kesenangan pribadi demi memberkati tempat tinggal kita atau meneladani kehidupan Sang Juru Selamat dunia? Apakah kita akan selamanya hidup seperti yang didiktekan masyarakat yang mementingkan diri sendiri, berputar-putar dalam lingkaran sempit yang berisi kesenangan dan hiburan, dan tak pernah mengenal perihnya hal-hal yang menuntut pengorbanan?”
“Apakah kau sedang mengkhotbahiku?” tanya Nyonya Winslow perlahan. Rachel bangkit berdiri, ia paham benar makna kata-kata ibunya.
“Bukan. Aku sedang mengkhotbahi diriku sendiri,” jawabnya lembut. Ia terdiam sejenak, seakan mengira ibunya akan mengatakan sesuatu lagi, lalu keluar dari ruangan itu. Begitu tiba di kamarnya sendiri, ia merasa bahwa sejauh menyangkut ibunya, ia tak dapat mengharapkan simpati, bahkan pengertian yang tulus sekalipun darinya.
Ia berlutut. Boleh dikatakan bahwa dalam dua pekan sejak jemaat Henry Maxwell berhadapan dengan sosok lusuh bertopi pudar itu, lebih banyak anggota jemaatnya yang tergerak berlutut dalam doa dibanding sepanjang masa pelayanannya yang sudah-sudah.
Ia bangkit. Wajahnya basah oleh air mata. Ia duduk merenung sejenak, lalu menulis sepucuk surat singkat kepada Virginia Page. Ia mengirimkannya melalui seorang kurir, lalu turun ke bawah untuk memberi tahu ibunya bahwa ia dan Virginia akan pergi ke The Rectangle malam itu untuk menemui Pak dan Bu Gray, para penginjil itu.
“Paman Virginia, Dr. West, akan ikut bersama kami, jika Virginia jadi ikut. Aku sudah meminta Virginia menghubunginya lewat telepon dan mengajaknya ikut. Dokter itu sahabat keluarga Gray, dan sempat menghadiri beberapa kebaktian mereka musim dingin lalu.”
Nyonya Winslow tak berkata apa-apa. Sikapnya memperlihatkan penolakan mutlak terhadap jalan yang dipilih Rachel, dan Rachel bisa merasakan kepahitan ibunya yang tak terucap.
Sekitar pukul tujuh, sang Dokter dan Virginia tiba, dan mereka bertiga berangkat bersama-sama menuju tempat diadakannya kebaktian Salib Putih.
The Rectangle adalah kawasan yang termasyhur paling buruk di seluruh Raymond. Letaknya di wilayah yang berdekatan dengan bengkel kereta api dan rumah-rumah jagal. Bagian-bagian terburuk dan paling menyedihkan di kawasan luas yang berisi daerah kumuh dan rumah petak di Raymond ada di sekitar The Rectangle. Kawasan itu berupa tanah lapang tandus yang pada musim panas biasa dipakai oleh rombongan sirkus dan pemain sandiwara keliling. Di sekelilingnya, ada deretan kedai minum, sarang judi, serta losmen dan pondokan murah yang kotor dan menjijikkan.
Gereja Pertama Raymond tak pernah menyentuh persoalan The Rectangle. Tempat itu terlalu kotor, terlalu kasar, terlalu berdosa, terlalu mengerikan untuk didekati. Jujur saja. Memang pernah ada upaya untuk membersihkan borok ini dengan sesekali mengirimkan grup paduan suara, guru-guru Sekolah Minggu, atau penginjil tamu dari berbagai gereja. Namun, Gereja Pertama di Raymond, sebagai lembaga, tak pernah sungguh-sungguh melakukan apa pun untuk mengikis kedudukan The Rectangle sebagai benteng iblis seiring berlalunya tahun demi tahun.
Ke tengah-tengah sarang dosa di Raymond inilah sang penginjil keliling bersama istrinya yang mungil dan pemberani mendirikan tenda yang cukup besar dan memulai kebaktian-kebaktian. Saat itu musim semi, dan cuaca malam mulai terasa lebih menyenangkan. Kedua penginjil itu telah meminta bantuan orang-orang Kristen, dan memperoleh dorongan semangat yang lebih banyak dibandingkan biasanya. Namun, mereka sangat membutuhkan lebih banyak musik berkualitas. Selama kebaktian-kebaktian pada hari Minggu yang baru lalu, pemain organ pembantu jatuh sakit. Relawan dari dalam kota hanya sedikit dan mutu suara mereka biasa-biasa saja.
“Malam ini jemaat yang datang bakal sedikit, John,” ujar sang istri, tatkala mereka memasuki tenda sesaat selepas pukul tujuh dan mulai mengatur kursi-kursi serta menyalakan lampu.
“Ya, aku khawatir begitu.” Pak Gray adalah seorang pria bertubuh kecil dan penuh semangat, dengan suara yang enak didengar serta keberanian laksana seorang pejuang. Ia telah menjalin persahabatan dengan lingkungan sekitarnya. Salah seorang yang bertobat lewat pelayanannya, seorang pria berwajah keras yang baru saja masuk, mulai membantu menata tempat duduk.
Waktu menunjukkan lewat pukul delapan malam saat Alexander Powers membuka pintu ruang kerjanya dan bersiap pulang ke rumah. Ia hendak naik trem di sudut The Rectangle. Namun, langkahnya terhenti oleh suara yang mengalun dari arah tenda.
Itu suara Rachel Winslow. Suara itu menembus kesadarannya yang tengah bergumul dengan pertanyaannya sendiri, pertanyaan yang telah membawanya masuk ke hadirat Ilahi demi mencari jawaban. Ia belum mencapai kesimpulan. Ia tersiksa oleh ketidakpastian. Seluruh jalan hidupnya selama ini sebagai pegawai kereta api merupakan persiapan terburuk untuk melakukan pengorbanan apa pun. Dan ia belum bisa mengatakan apa yang akan ia perbuat dalam perkara itu.
Dengar! Apa yang sedang ia nyanyikan? Bagaimana mungkin Rachel Winslow bisa sampai berada di sini? Beberapa jendela di dekat situ terbuka. Beberapa laki-laki yang sedang bertengkar di dekat sebuah kedai minum berhenti dan mendengarkan. Sosok-sosok lain berjalan cepat ke arah The Rectangle dan tenda itu. Jelas Rachel Winslow belum pernah bernyanyi seperti itu di Gereja Pertama. Sungguh suara yang menakjubkan. Apa yang sedang ia nyanyikan? Sekali lagi Alexander Powers, Kepala Bagian bengkel mesin itu, tertegun dan mendengarkan,
“Ke mana pun Tuhan pimpin, ‘ku rela mengikut-Nya,
Ke mana pun Tuhan pimpin, ‘ku rela mengikut-Nya,
Ke mana pun Tuhan pimpin, ‘ku rela mengikut-Nya,
‘Ku mau berjalan serta-Nya, serta-Nya
Selamanya!”
Kehidupan The Rectangle yang brutal, kasar, dan cemar seolah bangkit dalam denyut kehidupan baru tatkala nyanyian yang murni itu mengalun keluar dan merembes masuk ke dalam kedai minum, sarang maksiat, dan pondokan-pondokan yang kotor. Seseorang tergesa-gesa melewati Alexander Powers dan menjawab sebuah pertanyaan: “Tendanya mulai penuh sesak malam ini. Yang begitu baru namanya musik, ya?”
Sang Kepala Pengawas berpaling ke arah tenda. Lalu ia berhenti. Setelah semenit bimbang, ia melanjutkan langkah ke sudut jalan dan naik trem menuju rumahnya. Namun, sebelum suara Rachel lenyap dari pendengarannya, ia tahu bahwa ia telah memutuskan jawaban bagi dirinya sendiri atas pertanyaan tentang apa yang akan Yesus lakukan.
Mengikuti Jejak-Nya, Mengikuti Jejak-Nya Charles M. Sheldon, In His Steps bahasa Indonesia, terjemahan In His Steps bahasa Indonesia, baca In His Steps bahasa Indonesia gratis, novel Kristen klasik, sastra Kristen bahasa Indonesia, novel tentang mengikut Yesus, apa yang akan Yesus lakukan, Charles M. Sheldon bahasa Indonesia, Mengikuti Jejak-Nya Bab 1, novel Kristen domain publik, bacaan rohani Kristen gratis, terjemahan Lilian Roma Parsaulian