Mengikuti Jejak-Nya
Bab Satu: Tamu Henry Maxwell
“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”
Waktu itu Jumat pagi, dan Pdt. Henry Maxwell sedang berusaha menyelesaikan khotbahnya untuk ibadah Minggu pagi. Ia beberapa kali terganggu dan mulai gelisah seiring berlalunya pagi, sementara penyelesaian naskah khotbah itu menuju akhir yang memuaskan berjalan sangat lambat.
“Mary,” ia memanggil istrinya sambil menaiki tangga setelah gangguan terakhir, “kalau ada yang datang lagi, tolong katakan aku sangat sibuk dan tidak bisa turun kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting.”
“Baik, Henry. Tapi aku mau kunjungan ke taman kanak-kanak, jadi nanti kau bebas sendirian di rumah.”
Pendeta itu naik ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Beberapa menit kemudian, ia mendengar istrinya keluar, lalu segalanya menjadi hening. Ia duduk di kursi kerjanya dengan helaan napas lega lalu mulai menulis. Nats khotbahnya diambil dari 1 Petrus 2:21: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”
Pada bagian pertama khotbahnya, ia menekankan Pendamaian sebagai pengorbanan pribadi. Ia mengarahkan perhatian jemaat pada penderitaan Yesus dalam berbagai aspek, baik hidup-Nya maupun mati-Nya. Kemudian, ia melanjutkan dengan menekankan pendamaian dari segi teladan. Ia berikan ilustrasi dari kehidupan dan ajaran Yesus untuk memperlihatkan bagaimana iman kepada Kristus menolong menyelamatkan manusia karena pola hidup atau karakter yang Dia tunjukkan untuk mereka teladani. Lalu, pada pokok ketiga dan terakhir, ia menerangkan keharusan untuk mengikut Yesus dalam pengorbanan dan teladan-Nya.
Ia telah menuliskan "Tiga Langkah. Apa saja itu?" dan baru hendak menerangkannya dalam urutan yang logis ketika bel pintu berbunyi nyaring. Bel itu salah satu jenis bel yang bermekanisme seperti jam dan selalu berbunyi seperti jam dinding yang berdentang dua belas kali secara serentak.
Henry Maxwell duduk di mejanya dan sedikit mengerutkan kening. Ia tidak bergerak untuk menanggapi bunyi bel itu. Tidak lama kemudian bel itu berbunyi lagi, barulah ia bangkit dan berjalan ke salah satu jendela yang menghadap ke arah pintu depan. Seseorang berdiri di tangga. Ia seorang pemuda dengan pakaian yang sangat lusuh.
“Kelihatannya seorang gelandangan,” gumam pendeta itu. “Mungkin sebaiknya aku turun dan—”
Ia tak menyelesaikan kalimatnya, tapi bergegas turun dan membuka pintu depan. Sesaat keduanya berdiri saling berhadapan dalam diam, lalu pemuda berpenampilan lusuh itu berkata:
“Saya tak punya pekerjaan, Pak, dan saya pikir barangkali Bapak bisa menunjukkan jalan bagi saya untuk mendapatkan pekerjaan.”
“Saya tidak tahu di mana ada lowongan. Pekerjaan memang susah—” jawab sang pendeta sambil menutup pintu perlahan-lahan.
“Saya hanya berpikir mungkin Bapak bisa memberi surat rekomendasi untuk perusahaan trem kota atau mandor bengkel kereta api, atau semacamnya,” sambung pemuda itu sambil memindahkan topinya yang telah pudar dari satu tangan ke tangan yang lain dengan cemas.
“Itu takkan ada gunanya. Maaf, ya. Saya sibuk sekali pagi ini. Semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan. Sayangnya, saya tidak bisa memberimu pekerjaan di sini. Saya hanya memelihara seekor kuda dan seekor sapi, dan saya mengurusnya sendiri.”
Pdt. Henry Maxwell menutup pintu dan mendengar langkah pria itu menuruni tangga. Saat naik kembali ke ruang kerja, ia melihat dari jendela lorong pria itu berjalan lambat menyusuri jalan, masih memegang topi di kedua tangannya. Ada sesuatu pada sosok itu yang begitu suram, tak berumah, dan terbuang, hingga sang pendeta sempat terdiam sejenak sambil memandanginya. Ia kembali ke mejanya lalu, sambil menghela napas panjang, melanjutkan tulisan dari bagian yang tadi ditinggalkannya.
Tidak ada gangguan lagi setelah itu, dan ketika istrinya pulang dua jam kemudian, khotbah itu sudah selesai, lembaran-lembaran lepasnya sudah dikumpulkan dan diikat rapi menjadi satu, lalu diletakkan di atas Alkitabnya, siap untuk ibadah Minggu pagi.
“Ada kejadian aneh di taman kanak-kanak pagi ini, Henry,” kata istrinya ketika mereka makan malam. “Kau tahu tadi aku pergi bersama Ibu Brown mengunjungi sekolah. Tepat setelah permainan usai, saat anak-anak sedang di meja belajar, pintu terbuka dan seorang pemuda masuk sambil memegang topi kotor di kedua tangannya. Ia duduk di dekat pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya memandangi anak-anak. Jelas ia seorang gelandangan. Ibu Wren dan asistennya, Ibu Kyle, awalnya agak ketakutan, tapi pria itu duduk di sana dengan sangat tenang. Lalu, setelah beberapa menit, ia pergi.”
“Mungkin ia capek dan ingin beristirahat di suatu tempat. Kurasa orang itu juga datang ke sini. Kau bilang ia kelihatan seperti gelandangan?”
“Ya, sangat kotor, lusuh, dan secara umum tampak seperti gelandangan. Menurutku usianya tak lebih dari tiga puluh atau tiga puluh tiga tahun.”
“Orang yang sama,” kata Pdt. Henry Maxwell sambil termenung.
“Apa khotbahmu sudah selesai, Henry?” tanya istrinya setelah hening sejenak.
“Ya, sudah beres semua. Minggu ini benar-benar sibuk untukku. “Dua khotbah itu menuntut kerja keras yang tidak sedikit.”
“Kuharap banyak jemaat yang datang mendengarkannya hari Minggu nanti,” balas istrinya sambil tersenyum. “Apa yang akan kaukhotbahkan Minggu pagi?”
“Mengikut Kristus. Aku membahas Pendamaian dari aspek pengorbanan dan teladan. Lalu, menjelaskan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengikuti pengorbanan dan teladan-Nya.”
“Pasti itu khotbah yang bagus. Semoga Minggu nanti tidak hujan. Akhir-akhir ini, sering sekali badai pada hari Minggu.”
“Ya, kehadiran jemaat agak menyusut beberapa waktu ini. Orang enggan ke gereja saat badai.” Pdt. Henry Maxwell menghela napas saat mengatakannya. Ia memikirkan susah payahnya menyiapkan khotbah bagi jemaat besar akan sia-sia kalau ternyata jemaat tidak muncul.
Namun, Minggu pagi itu cerah di kota Raymond, salah satu hari sempurna yang kadang datang setelah masa berangin, lumpur, dan hujan yang panjang. Udara jernih dan menyegarkan, langit bebas dari segala tanda yang mengancam, dan setiap jemaat Bapak Maxwell bersiap-siap ke gereja. Ketika ibadah dimulai pukul sebelas, gedung besar itu sudah penuh dengan jemaat yang berpenampilan paling rapi dan paling enak dilihat di Raymond.
Gereja Pertama Raymond berprinsip mereka harus memiliki musik terbaik yang bisa dibeli dengan uang, dan paduan suara kuartet pagi itu menjadi sumber sukacita besar bagi jemaat. Lagu puji-pujiannya terdengar begitu menggugah. Seluruh musiknya selaras dengan tema khotbah. Lagu puji-pujian itu sendiri merupakan gubahan megah kidung dengan musik yang paling modern,
“Yesus, Kau kuikutlah, Salib-Mu kupikullah;
Segala hal kutinggalkan, Hanya Kau kuikutlah.”
Tepat sebelum khotbah dimulai, sang penyanyi sopran bernyayi solo dari kidung yang masyhur,
“Ke mana pun Tuhan pimpin, 'ku rela mengikut-Nya;
‘ku mau berjalan serta-Nya, serta-Nya selamanya.”
Rachel Winslow tampak sangat cantik pagi itu saat ia berdiri di balik sekat kayu ek berukir yang dihiasi lambang salib dan mahkota. Suaranya bahkan lebih menawan dibanding parasnya, yang berarti bagus sekali. Desau penuh harap terdengar di seluruh jemaat ketika ia bangkit berdiri. Bapak Maxwell duduk dengan puas di balik mimbar. Nyanyian Rachel Winslow selalu menolongnya. Ia biasanya mengatur agar satu lagu dinyanyikan sebelum khotbah dimulai. Dengan begitu, inspirasi batiniah dapat muncul, yang membuat penyampaian khotbahnya kian berkesan.
Orang-orang saling berbisik bahwa mereka belum pernah mendengar nyanyian seindah itu, bahkan di Gereja Pertama sekalipun. Andai saat itu bukan ibadah gereja, nyanyian solonya itu pasti akan disambut dengan tepuk tangan meriah. Bahkan sang pendeta merasakan, saat Rachel duduk kembali, sesuatu yang menyerupai tepuk tangan pelan atau hentakkan kaki di lantai menyapu seisi gedung gereja. Sang pendeta terkejut karenanya. Namun, ketika ia bangkit dan meletakkan bahan khotbahnya di atas Alkitab, ia berkata dalam hati bahwa ia pasti keliru. Tentu saja hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Dalam sekejap, ia telah larut dalam khotbahnya, segala hal lain pun terlupakan, tenggelam dalam nikmatnya penyampaian khotbah.
Tak seorang pun pernah mengatakan Henry Maxwell pengkhotbah yang membosankan. Sebaliknya, ia kerap dibilang sensasional, bukan semata-mata karena isi ucapannya, melainkan karena caranya mengatakannya. Namun, jemaat Gereja Pertama suka itu. Ciri itu memberi pendeta dan jemaat sebuah keistimewaan tersendiri yang sangat menyenangkan.
Benar pula adanya bahwa pendeta Gereja Pertama itu sangat suka berkhotbah. Ia jarang bertukar mimbar dengan pendeta lain. Ia selalu bersemangat berdiri di mimbarnya sendiri setiap kali hari Minggu tiba. Baginya, setengah jam itu menggelorakan tatkala ia menatap seisi gereja yang penuh sesak dan menyadari bahwa setiap pasang telinga tertuju kepadanya. Ia sangat peka terhadap perubahan kehadiran jemaat. Ia tak pernah bisa berkhotbah dengan baik di hadapan segelintir jemaat. Cuaca pun berpengaruh besar terhadap dirinya. Performanya paling baik di hadapan jemaat seperti yang kini ada di hadapannya, dan pada pagi yang cerah seperti ini. Ia merasakan aliran kepuasan seiring ia melanjutkan khotbahnya. Gereja itu merupakan gereja terkemuka di kota itu. Paduan suaranya yang terbaik. Anggota jemaatnya terdiri dari tokoh terpandang, perwakilan kaum berada, kalangan atas, dan kaum terpelajar Raymond. Ia akan berlibur ke luar negeri selama tiga bulan pada musim panas nanti, ditambah lagi kenyataan seputar pelayanannya, pengaruhnya, dan kedudukannya sebagai pendeta Gereja Pertama di kota itu—
Pendeta Henry Maxwell tak menyadari betul bagaimana persisnya ia menyambungkan pikiran itu dengan khotbahnya. Namun, menjelang akhir khotbahnya, ia sadar bahwa pada suatu titik ketika berkhotbah, segenap perasaan itu melintas di benaknya. Perasaan itu telah masuk ke dalam inti pikirannya. Mungkin semuanya hanya berlangsung beberapa detik, tapi ia sungguh-sungguh sadar akan penegasan posisi dan emosinya, persis seolah-olah ia sedang bermonolog seorang diri, dan gaya penyampaiannya pun memancarkan getaran kepuasan pribadi yang mendalam.
Khotbahnya menarik. Isinya sarat dengan kalimat-kalimat yang mengesankan. Andai dicetak pun, kalimat-kalimat itu niscaya tetap akan memikat perhatian. Disampaikan dengan cara dramatis yang berkelas—tanpa terkesan berteriak-teriak atau berlebihan—kalimat-kalimat itu sungguh menarik dan berdaya pikat kuat. Kalau pagi itu Pendeta Henry Maxwell merasa puas dengan pencapaian pelayanannya, jemaat Gereja Pertama pun merasakan kepuasan serupa seiring mereka berbangga hati memiliki sosok terpelajar, berwibawa, dan memikat di balik mimbar—seorang pengkhotbah yang tuturnya begitu hidup, tanpa cela tingkah laku yang norak, berisik, atau tak menyenangkan.
Namun tiba-tiba, di tengah-tengah keselarasan dan kesepahaman yang sempurna antara pengkhotbah dan jemaat ini, datanglah sebuah gangguan yang luar biasa. Sukar digambarkan betapa besar guncangan yang ditimbulkan oleh gangguan ini. Gangguan itu begitu tak terduga, begitu bertolak belakang dengan pikiran siapa pun yang hadir saat itu, sehingga tak menyisakan ruang untuk perbantahan atau, setidaknya untuk saat itu, untuk penolakan.
Khotbah itu telah sampai pada penutup. Bapak Maxwell baru selesai menaruh naskah khotbah di tengah Alkitab besarnya dan hendak duduk selagi kuartet bersiap bangkit untuk menyanyikan lagu penutup,
“Bagi Yesus kuserahkan,
Segenap kekuatanku...”
ketika seluruh jemaat tersentak oleh suara seorang pria. Suara itu berasal dari bagian belakang gereja, dari salah satu deret bangku di bawah balkon. Sesaat kemudian, sosok seorang pria melangkah keluar dari kegelapan dan berjalan menyusuri lorong tengah.
Sebelum jemaat yang terperangah sempat menyadari apa yang sedang terjadi, pria itu telah mencapai ruang terbuka di depan mimbar dan berbalik menghadap jemaat.
“Saya terus bertanya-tanya sejak saya melangkah masuk ke gereja ini”—itulah kata-kata yang sempat ia ucapkan di bawah balkon, dan kini ia mengulanginya—“apakah pantas bila saya menyampaikan sepatah dua patah kata di akhir ibadah ini. Saya tidak mabuk dan saya tidak gila, dan saya sama sekali tidak berniat jahat, tapi jika saya mati—yang kemungkinan besar akan terjadi dalam beberapa hari ke depan—saya ingin merasa lega bahwa saya telah mengutarakan isi hati saya di tempat seperti ini, dan di hadapan kumpulan orang seperti ini.”
Henry Maxwell belum sempat duduk, dan akhirnya ia tetap berdiri mematung sambil bertumpu pada mimbarnya, menatap ke arah orang asing itu. Orang itu adalah pria yang mendatangi rumahnya pada hari Jumat lalu, pemuda yang sama, yang berdebu, letih, dan berpenampilan lusuh. Ia memegang topinya yang sudah pudar dengan dua tangannya. Agaknya itu memang gerakan kesukaannya. Ia belum bercukur dan rambutnya kusut masai. Rasanya belum pernah orang dengan rupa seperti ini berdiri di hadapan Gereja Pertama di dalam tempat kudus ini. Mereka cukup terbiasa melihat orang semacam ini di jalanan, di sekitar bengkel kereta api, atau berkeliaran di jalan besar. Namun, mereka tidak pernah membayangkan peristiwa semacam ini terjadi di depan mata.
Tidak ada yang menakutkan dalam sikap atau nada suara laki-laki itu. Ia tidak gusar, dan ia berbicara dengan suara pelan, tapi jelas. Bapak Maxwell tersadar, selagi ia berdiri terpaku dalam ketertegunan atas peristiwa itu, bahwa entah bagaimana gerak-gerik pria itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia lihat berjalan dan berbicara dalam tidurnya.
Tak seorang pun dalam gedung gereja itu bergerak untuk menghentikan sang orang asing atau menyela ucapannya. Barangkali rasa kaget di awal berubah menjadi kebingungan sesungguhnya mengenai langkah terbaik apa yang mesti diambil. Apa pun alasannya, pemuda itu terus berbicara seolah tak terlintas di benaknya ia bisa saja dihentikan. Ia juga tak menyadari betapa janggalnya keberadaan dirinya di tengah tata kesopanan ibadah Gereja Pertama. Sepanjang pria itu berbicara, sang pendeta kian bersandar ke mimbar, dengan wajah yang kian lama kian memucat dan meredup sedih. Namun, ia tidak membuat gerakan apa pun untuk menghentikannya, dan jemaat pun duduk terpaku dalam keheningan yang mencekam. Satu wajah lain, yakni Rachel Winslow dari deretan paduan suara, menatap pucat pasi dan tegang ke arah sosok lusuh bertopi pudar itu. Wajahnya memang selalu mencolok. Namun, di bawah tekanan peristiwa yang belum pernah terjadi ini, parasnya lebih mencolok lagi, seolah-olah dibingkai oleh nyala api.
“Saya bukan gelandangan biasa, walaupun saya tak tahu apakah ada ajaran Yesus yang menyatakan gelandangan jenis yang satu lebih tak layak diselamatkan dibanding yang lain. Adakah Saudara yang tahu?” Ia melontarkan pertanyaan itu begitu wajar seolah segenap jemaat itu hanya sebuah kelas pendalaman Alkitab kecil. Ia terdiam sejenak lalu terbatuk-batuk menahan sakit. Kemudian ia melanjutkan bicaranya.
“Saya kehilangan pekerjaan sepuluh bulan yang lalu. Pekerjaan saya tukang cetak. Mesin linotipe baru itu memang penemuan yang luar biasa hebat, tapi sudah enam orang yang saya kenal bunuh diri dalam setahun ini hanya gara-gara mesin itu. Tentu saja saya tidak menyalahkan perusahaan surat kabar karena membeli mesin-mesin itu. Namun, apa yang bisa diperbuat oleh orang seperti saya? Saya tak pernah mempelajari keterampilan lain selain pekerjaan cetak, dan hanya itulah yang bisa saya lakukan. Saya sudah keliling ke seantero negeri demi mencari pekerjaan. Masih ada banyak orang lain yang bernasib sama seperti saya. Saya tidak sedang mengeluh. Saya hanya menyatakan kenyataan. Namun, saya terus bertanya-tanya saat saya duduk di sana, di bawah balkon, apakah yang kalian sebut sebagai mengikut Yesus itu sama dengan yang Dia ajarkan. Apa sebenarnya yang Dia maksudkan ketika Dia berkata: ‘Ikutlah Aku!’? “Pendeta tadi berkata,” di sini ia berbalik dan mendongak ke mimbar, “bahwa murid Yesus wajib mengikuti jejak langkah-Nya, dan beliau mengatakan jejak langkah itu adalah ‘ketaatan, iman, kasih, dan peneladanan’. Namun, saya tidak mendengar beliau menjelaskan apa arti sesungguhnya dari semua itu, khususnya langkah yang terakhir. Apa yang kalian maksudkan, wahai orang Kristen, dengan mengikuti jejak Yesus?”
“Saya sudah keliling menyusuri kota ini tiga hari demi mencari pekerjaan. Sepanjang waktu itu, saya tidak mendengar sepatah pun kata simpati atau penghiburan, kecuali dari pendeta kalian ini, yang berkata beliau kasihan kepada saya dan berharap saya lekas menemukan pekerjaan di suatu tempat. Saya kira itu karena kalian sudah begitu sering dibohongi oleh gelandangan bayaran sehingga kalian kehilangan kepedulian terhadap gelandangan lainnya. Saya tidak menyalahkan siapa pun. Saya hanya menyatakan kenyataan. Tentu saja, saya memaklumi bahwa kalian semua tak mungkin repot-repot menghabiskan waktu demi mencarikan pekerjaan bagi orang-orang seperti saya. Saya juga tak meminta itu dari kalian, tapi yang membuat saya bingung adalah, apa sebenarnya arti mengikut Yesus. Apa maksudnya ketika kalian menyanyikan ‘Ku mau berjalan serta-Nya, serta-Nya selamanya?’ Apakah itu berarti kalian rela menderita dan menyangkal diri serta berusaha menyelamatkan yang terhilang dan menderita, persis seperti yang saya pahami tentang apa yang diperbuat Yesus? Apa yang kalian maksudkan dengan pernyataan itu? Saya sudah cukup banyak melihat sisi getir kehidupan. Saya tahu ada lebih dari lima ratus orang di kota ini yang senasib dengan saya. Kebanyakan mereka punya keluarga. Istri saya meninggal empat bulan yang lalu. Saya bersyukur ia telah terbebas dari segala penderitaan. Putri saya yang masih kecil kini menumpang di keluarga seorang juru cetak sampai saya berhasil mendapatkan pekerjaan. Pikiran saya gundah ketika saya menyaksikan begitu banyak orang Kristen hidup bergelimang kemewahan dan menyanyikan, ‘Yesus, Kau kuikutlah, Salib-Mu kupikullah, segala hal kutinggalkan, hanya Kau kuikutlah,’ sementara saya teringat bagaimana istri saya meninggal di sebuah rumah petak kumuh di Kota New York, megap-megap menarik napas sambil memohon agar Tuhan merenggut nyawa putri kecil kami juga. Tentu saja saya tidak menuntut kalian harus mencegah setiap orang mati akibat kelaparan, kurang gizi, dan pengapnya udara rumah petak kumuh, tapi apa sebenarnya arti mengikut Yesus? Saya tahu bahwa banyak orang Kristen memiliki rumah-rumah petak itu. Salah seorang anggota gereja adalah pemilik rumah petak tempat istri saya mengembuskan napas terakhir, dan saya bertanya-tanya apakah mengikut Yesus sepenuhnya sungguh nyata dalam hidup orang tersebut. Saya dengar beberapa orang bernyanyi dalam persekutuan doa gereja tempo hari,
‘Bagi Yesus kuserahkan,
Segenap kekuatanku,
Pikiranku dan perbuatanku,
Segenap hariku, segenap waktuku.’
dan saya terus bertanya-tanya sewaktu saya duduk di tangga luar, apa sebenarnya yang mereka maksudkan dengan pernyataan itu. Menurut hemat saya, ada teramat banyak kesengsaraan di dunia ini yang semestinya tidak perlu ada andai saja semua orang yang menyanyikan lagu-lagu semacam itu sungguh-sungguh menghidupinya. Barangkali saya yang tidak paham. Namun, apa yang akan Yesus lakukan? Apakah itu yang kalian maksudkan dengan mengikuti jejak-Nya? Bagi saya, kadang-kadang rasanya seperti orang-orang di gereja besar punya pakaian bagus, rumah nyaman, dan uang untuk hal-hal mewah, serta bisa berlibur pada musim panas dan segala hal semacamnya, sedangkan ribuan orang di luar gereja mati di rumah petak kumuh, berkeliling ke mana-mana mencari pekerjaan, tak pernah punya piano atau lukisan di rumah, serta tumbuh besar dalam kesengsaraan, mabuk-mabukan, dan dosa.”
Tiba-tiba, orang itu terhuyung limbung ke arah meja perjamuan kudus dan meletakkan satu tangannya yang kotor ke atas meja itu. Topinya jatuh ke atas karpet di dekat kakinya. Keresahan menjalar di seluruh jemaat. Dr. West sedikit bangkit dari bangkunya, tapi sampai saat itu keheningan belum terpecahkan oleh suara atau gerakan yang berarti dari jemaat. Orang itu menyapukan tangannya yang lain ke matanya, lalu, tanpa tanda-tanda sebelumnya, ia jatuh tertelungkup dengan suara berdebam keras, terbujur di lorong gereja. Henry Maxwell bersuara:
“Ibadah kita anggap selesai.”
Sang pendeta sudah melangkah turun dari tangga mimbar dan berlutut di samping tubuh yang terkapar itu mendahului yang lain. Jemaat serentak berdiri dan lorong-lorong gereja pun langsung penuh berdesakan. Dr. West memastikan bahwa orang itu masih bernyawa. Ia hanya pingsan. “Ada gangguan jantung,” bisik sang dokter seraya membantu mengangkat tubuh pria itu keluar menuju ruang kerja pendeta.
Mengikuti Jejak-Nya, Mengikuti Jejak-Nya Charles M. Sheldon, In His Steps bahasa Indonesia, terjemahan In His Steps bahasa Indonesia, baca In His Steps bahasa Indonesia gratis, novel Kristen klasik, sastra Kristen bahasa Indonesia, novel tentang mengikut Yesus, apa yang akan Yesus lakukan, Charles M. Sheldon bahasa Indonesia, Mengikuti Jejak-Nya Bab 1, novel Kristen domain publik, bacaan rohani Kristen gratis, terjemahan Lilian Roma Parsaulian