Mengikuti Jejak-Nya
Bab Enam: Pilihan Rachel Winslow
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
“Demikian pula tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”
SETELAH Rachel Winslow dan Virginia Page berpisah seusai pertemuan di Gereja Pertama pada hari Minggu, mereka sepakat untuk melanjutkan perbincangan mereka keesokan harinya. Virginia mengundang Rachel untuk santap siang bersamanya. Siang itu, Rachel pun membunyikan bel pintu di rumah gedong keluarga Page sekitar pukul setengah dua belas. Virginia sendiri yang menyambutnya, dan tak lama kemudian keduanya sudah tenggelam dalam percakapan serius.
“Sebenarnya,” kata Rachel, setelah mereka berbincang beberapa saat, “aku merasa ini tak selaras dengan penilaianku tentang apa yang akan Kristus lakukan. Aku tak bisa menyuruh orang lain berbuat sesuatu, tapi aku merasa tak seharusnya aku menerima tawaran ini.”
“Lalu, apa yang akan kaulakukan?” tanya Virginia sangat ingin tahu.
“Aku belum tahu, tapi aku sudah memutuskan untuk menolak tawaran ini.”
Rachel mengambil sepucuk surat yang sedari tadi tergeletak di pangkuannya dan membaca sekilas isinya sekali lagi. Surat itu berasal dari manajer rombongan pertunjukan opera yang menawarinya posisi di kelompok sandiwara keliling besar untuk musim pementasan kali ini. Gajinya terbilang sangat besar, dan prospek yang dijanjikan sang manajer sungguh menggoda. Sang manajer sempat mendengar suara Rachel menyanyi pada kebaktian Minggu pagi tatkala pria asing itu menginterupsi jalannya ibadah. Dia sangat terpukau. Menurut isi surat tersebut, suara Rachel bernilai komersial tinggi dan sudah semestinya dimanfaatkan dalam opera, dan sang manajer menginginkan jawaban secepat mungkin.
“Bukan persoalan besar berkata ‘Tidak’ terhadap tawaran ini, aku masih ada satu tawaran lagi,” lanjut Rachel sambil berpikir mendalam. “Yang itu lebih sulit diputuskan. Namun, ketetapan hatiku sudah hampir bulat. Sejujurnya, Virginia, untuk tawaran yang pertama, aku benar-benar yakin bahwa Yesus takkan pernah memakai bakat, seperti suara bagus, hanya untuk menghasilkan uang. Namun, lihatlah tawaran konser ini. Ini rombongan terhormat yang mengadakan tur keliling bersama seorang pemain watak, pemain biola, dan kuartet vokal pria—semuanya orang-orang bereputasi baik. Aku diminta bergabung menjadi anggota rombongan dan menyanyi sebagai penyanyi sopran utama. Gajinya—tadi sudah kusebutkan, bukan?—dijamin dua ratus dolar sebulan selama musim pertunjukan. Namun, hatiku tak yakin Yesus akan menerimanya. Menurutmu bagaimana?”
“Jangan memintaku mengambil keputusan untukmu,” sahut Virginia dengan senyum muram. “Aku percaya Pdt. Maxwell benar waktu ia berkata masing-masing kita harus memutuskan seturut pertimbangan yang menurut keyakinan batin kita sendiri mencerminkan Kristus. Pergumulanku lebih berat daripada pergumulanmu, Sayang, untuk menentukan apa yang akan Dia lakukan.”
“Begitukah?” tanya Rachel. Ia bangkit, melangkah ke dekat jendela, lalu memandang ke luar. Virginia datang dan berdiri di sampingnya. Jalanan di luar ramai penuh kehidupan, dan sesaat dua perempuan muda itu memandanginya dalam diam.
Tiba-tiba Virginia mencurahkan isi hatinya dengan nada yang belum pernah didengar Rachel sebelumnya: “Rachel, apa makna seluruh pertentangan ini bagimu ketika kau bertanya apa yang akan Yesus lakukan? Aku masygul memikirkan bahwa tatanan masyarakat tempat aku dibesarkan—kalangan yang konon merupakan tempat kita berdua bernaung—tahun demi tahun merasa puas untuk terus berdandan, makan, dan bersenang-senang, memberi dan menerima jamuan hiburan, menghamburkan uang untuk membeli rumah dan kemewahan, dan sesekali, demi menenangkan hati nurani, menyumbangkan sedikit uang untuk amal tanpa pengorbanan pribadi sama sekali. Seperti dirimu, Aku telah dididik di salah satu sekolah termahal di Amerika. Aku diperkenalkan ke tengah masyarakat terpandang sebagai seorang ahli waris, dan dianggap berada dalam kedudukan yang teramat patut dicemburui. Kesehatanku sempurna. Aku bisa bepergian ke mana pun atau bersantai di rumah. Aku bisa berbuat sesuka hatiku. Aku bisa memuaskan hampir setiap keinginan atau hasratku. Namun, ketika dengan jujur aku mencoba membayangkan Yesus menjalani hidup seperti yang kujalani dan yang diharapkan kujalani, serta menghabiskan sisa hidupku melakukan apa yang diperbuat ribuan orang kaya lainnya, aku merasa terhukum batin karena menjadi salah satu makhluk yang paling jahat, egois, dan tak berguna di seantero dunia. Sudah berminggu-minggu aku tak dapat menatap ke luar jendela ini tanpa perasaan ngeri terhadap diriku sendiri ketika kulihat umat manusia yang berlalu-lalang di depan rumah ini.”
Virginia berbalik dan melangkah mondar-mandir di ruangan itu. Rachel memperhatikannya, tak kuasa membendung gelombang pemahamannya sendiri yang kian bertumbuh mengenai hakikat pemuridan. Apa guna bakat menyanyi yang dimilikinya bagi pelayanan Kristen? Apakah hal terbaik yang dapat ia perbuat hanyalah menjual bakatnya dengan harga sekian dolar sebulan, berkeliling mengikuti tur kelompok musik, mengenakan gaun-gaun indah, menikmati riuh tepuk tangan khalayak, dan merengkuh reputasi sebagai biduanita termasyhur? Itukah yang akan Yesus lakukan?
Ia tak bodoh. Ia sehat walafiat, ia sadar betul akan bakatnya yang besar sebagai penyanyi, dan ia tahu bahwa jika ia terjun ke panggung publik, ia dapat menghasilkan banyak uang serta menjadi terkenal. Rasanya tak berlebihan pula apabila ia menaksir kemampuannya untuk mencapai segala yang ia yakini bisa ia capai. Dan apa yang baru saja diucapkan Virginia, sahabatnya itu, menghantam batin Rachel sangat kuat karena keserupaan keadaan yang tengah dihadapi dua sahabat karib itu.
Mereka diberi tahu bahwa makan siang sudah siap, maka mereka pun keluar. Lalu, bergabunglah nenek Virginia, Ibu Page, wanita berusia enam puluh lima tahun yang rupawan dan berwibawa, serta abang Virginia, Rollin, pemuda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kelab-kelab dan tak memiliki ambisi apa pun selain kekagumannya yang kian mendalam terhadap Rachel Winslow. Setiap kali Rachel bertandang untuk santap malam atau santap siang di kediaman keluarga Page, asal mengetahuinya, Rollin selalu mengatur waktu agar berada di rumah.
Ketiga orang inilah yang mengisi keluarga Page. Mendiang ayah Virginia dulu seorang bankir dan investor biji-bijian. Ibunya telah berpulang sepuluh tahun silam, sedangkan ayahnya wafat tahun lalu. Sang nenek, yang kelahiran maupun didikannya khas orang Selatan, menganut semua tradisi dan perasaan yang menyertai seseorang yang selalu memiliki kekayaan dan kedudukan sosial yang mapan. Ia seorang wanita yang lihai, berhati-hati dalam berbisnis, dan memiliki kecakapan di atas rata-rata. Harta benda serta kekayaan keluarga itu sebagian besar diinvestasikan di bawah pengawasannya langsung. Bagian warisan Virginia sepenuhnya menjadi miliknya, tanpa pembatasan apa pun. Ayahnya telah melatihnya untuk memahami seluk-beluk dunia bisnis, dan bahkan sang nenek pun terpaksa mengakui kecakapan gadis itu dalam mengurus uangnya sendiri.
Barangkali tak dapat ditemukan di mana pun dua orang yang lebih tak mampu memahami sosok gadis seperti Virginia selain Ibu Page dan Rollin. Rachel, yang telah mengenal keluarga itu sejak ia menjadi teman bermain Virginia semasa kanak-kanak, tak bisa tidak memikirkan apa yang akan dihadapi Virginia di rumahnya sendiri kelak, begitu ia menetapkan langkah yang ia yakini secara jujur akan diambil oleh Yesus. Hari ini di meja makan, tatkala ia mengenang luapan emosi Virginia di ruang depan tadi, Rachel membayangkan peristiwa sengit yang suatu saat pasti akan terjadi antara Ibu Page dan cucunya.
“Kudengar kau akan manggung, Nona Winslow. Kami semua tentu akan senang sekali,” ujar Rollin di tengah perbincangan yang agak membosankan.
Wajah Rachel merona merah dan ia merasa terganggu. “Siapa yang memberitahumu?” tanyanya, sementara Virginia, yang sedari tadi sangat diam dan menahan diri, mendadak bangkit dan tampak siap turut serta dalam pembicaraan.
“Oh! Kami mendengar berita ini-itu di jalan. Lagi pula, semua orang melihat Crandall, manajer itu, di gereja dua minggu lalu. Ia tidak datang ke gereja untuk mendengarkan khotbah. Sebenarnya, saya tahu orang-orang lain yang juga begitu, yang tidak akan ke gereja apabila ada sesuatu yang lebih baik untuk didengar.”
Rachel tidak merona kali ini, melainkan menjawab dengan tenang, “Kau keliru. Saya tidak akan manggung.”
“Sayang sekali. Kau pasti akan sukses besar. Semua orang membicarakan nyanyianmu.”
Kali ini wajah Rachel merona merah akibat kemarahan. Sebelum ia sempat membalas, Virginia menyela, “Siapa yang kaumaksud dengan ‘semua orang’?”
“Siapa? Maksudku semua orang yang mendengarkan Nona Winslow bernyanyi pada hari Minggu. Kapan lagi mereka mendengarnya? Sayang sekali, menurutku, banyak orang di luar Raymond tak dapat menikmati suaranya.”
“Mari kita bicarakan hal lain,” kata Rachel dengan nada sedikit tajam. Ibu Page meliriknya dan berkata dengan sangat santun.
“Sayangku, Rollin memang tak pernah pandai menyampaikan pujian secara terselubung. Ia mirip ayahnya dalam hal itu. Tapi kami semua sangat ingin tahu rencanamu. Kami merasa berhak menanyakannya karena persahabatan kita sejak dulu. Dan Virginia sudah menceritakan kepada kami tentang tawaran yang kau terima dari kelompok musikal itu.”
“Tentu saja kukira itu sudah menjadi rahasia umum,” kata Virginia, seraya tersenyum ke seberang meja. “Aku ke kantor redaksi NEWS kemarin lusa.”
“Ya, ya,” sahut Rachel tergesa. “Aku paham itu, Ibu Page. Begini, aku dan Virginia sudah membicarakannya. Aku sudah memutuskan untuk tidak menerimanya, dan sampai sejauh ini baru itulah keputusanku.”
Rachel menyadari bahwa percakapan itu, sampai titik ini, telah mengurangi keraguannya mengenai tawaran kelompok musikal itu sebagai keputusan yang sepenuhnya memuaskan penilaiannya sendiri tentang apa yang kira-kira akan Yesus lakukan. Namun, hal yang paling tak diinginkannya di dunia ini adalah keputusannya diumumkan sedemikian terbuka seperti ini. Entah bagaimana, apa yang dikatakan Rollin Page, beserta caranya mengatakannya, telah mempercepat Rachel mengambil keputusan dalam perkara itu.
“Maukah kau memberi tahu kami, Rachel, apa alasanmu menolak tawaran itu? Tampaknya ini kesempatan emas bagi gadis muda sepertimu. Tidakkah menurutmu khalayak luas patut mendengar suaramu? Aku sependapat dengan Rollin dalam hal itu. Suara seperti suaramu adalah milik pendengar yang lebih besar daripada hanya Raymond dan Gereja Pertama.”
Rachel Winslow pada dasarnya seorang gadis yang amat tertutup. Ia enggan mengumbar rencana maupun jalan pikirannya kepada orang banyak. Namun, di balik segala pengendalian itu, sesekali mungkin saja terjadi pengungkapan tiba-tiba yang spontan, terus terang, dan jujur, dari perasaan pribadinya yang paling dalam. Kini ia menjawab Ibu Page dengan salah satu momen spontan yang langka itu, yang justru menambah pesona seluruh wataknya.
“Aku tak punya alasan lain selain keyakinan bahwa Yesus Kristus akan berbuat hal yang sama,” katanya, menatap lurus ke mata Ibu Page dengan pandangan yang jernih dan sungguh-sungguh.
Wajah Ibu Page memerah dan Rollin terbelalak menatapnya. Sebelum neneknya sempat berkata apa pun, Virginia bersuara. Rona merah yang merebak di wajahnya menunjukkan betapa batinnya bergolak. Kulit wajah Virginia yang putih bersih menandakan kesehatan yang prima, tapi biasanya sangat kontras dengan kecantikan Rachel yang bercorak tropis.
“Nenek, Nenek ‘kan tahu kami telah berjanji untuk menjadikan hal itu sebagai pedoman perilaku kami selama setahun. Usulan Pdt. Maxwell sudah sangat jelas bagi semua orang yang mendengarnya. Kami belum bisa mengambil keputusan kami dengan cepat. Kesulitan untuk mengetahui apa yang akan Yesus lakukan telah amat menyulitkanku dan Rachel.”
Ibu Page menatap tajam ke arah Virginia sebelum berkata apa pun.
“Tentu saja Nenek paham pernyataan Pdt. Maxwell. Tapi penerapannya dalam kenyataan hampir mustahil dilaksanakan. Waktu mendengarnya, Nenek yakin bahwa mereka yang berjanji akan menyadarinya setelah mencoba, lalu meninggalkannya sebagai angan-angan kosong yang tak masuk akal. Nenek tak berhak berkata apa-apa soal keputusan Nona Winslow, tapi,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan nada tajam yang baru didengar Rachel, “kuharap kau tak memiliki gagasan-gagasan konyol dalam hal ini, Virginia.”
“Aku punya banyak sekali gagasan,” jawab Virginia tenang. “Konyol tidaknya gagasan itu tergantung pemahamanku mengenai apa yang akan Dia lakukan. Begitu aku mengetahuinya, aku akan melakukannya.”
“Permisi, semuanya,” kata Rollin, seraya bangkit dari meja makan. “Percakapan ini sudah jauh di luar jangkauanku. Aku pamit undur diri ke ruang perpustakaan untuk merokok.”
Ia meninggalkan ruang makan, dan sesaat suasana hening. Ibu Page menunggu sampai pelayan selesai menghidangkan sesuatu, lalu memintanya keluar. Ia murka, dan amarahnya sangat menakutkan, kendati agak tertahan oleh kehadiran Rachel.
“Usiaku jauh lebih tua daripada kalian, Nona Muda,” katanya, dan sikap tradisionalnya yang khas membuatnya terlihat menjulang di mata Rachel, bagaikan dinding es raksasa, yang memisahkannya dari segala pemahaman tentang Yesus sebagai sebuah pengorbanan. “Apa yang telah kalian ikrarkan—kurasa karena terbawa emosi yang keliru—mustahil dilaksanakan.”
“Apakah maksud Nenek kami sama sekali tak mungkin berbuat seperti yang akan Tuhan kita lakukan? Ataukah maksud Nenek, jika kami mencobanya, kami akan menyinggung kebiasaan dan prasangka masyarakat?” tanya Virginia.
“Itu tidak perlu! Itu tidak penting! Lagi pula, kok bisa kau—” Madam Page berhenti, memutus kalimatnya, lalu berpaling kepada Rachel. “Apa yang akan dikatakan ibumu tentang keputusanmu? Sayangku, bukankah itu konyol? Lagi pula, bagaimana dengan suaramu?”
“Aku belum tahu apa yang akan Ibu katakan,” jawab Rachel, sangat enggan menebak tanggapan ibunya. Jika ada seseorang di seantero Raymond yang memendam ambisi besar demi kesuksesan putrinya sebagai penyanyi, Nyonya Winslow-lah orang itu.
“Oh! Kelak kau akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda setelah memikirkannya dengan lebih bijak. Sayangku,” lanjut Ibu Page seraya bangkit dari meja makan, “kau akan menyesal seumur hidup jika tak menerima tawaran rombongan konser itu atau yang serupa.”
Rachel menggumamkan sesuatu yang menyiratkan pergulatan yang masih berkecamuk di dalam batinnya. Tak lama kemudian ia pamit. Ia yakin kepergiannya akan disusul dengan percakapan sengit antara Virginia dan neneknya. Sebagaimana yang kemudian diketahuinya, Virginia melewati krisis batin selama perdebatannya dengan neneknya. Dan semua itu justru mempercepat keputusan akhir Virginia mengenai penggunaan uang serta kedudukan sosialnya.
Mengikuti Jejak-Nya, Mengikuti Jejak-Nya Charles M. Sheldon, In His Steps bahasa Indonesia, terjemahan In His Steps bahasa Indonesia, baca In His Steps bahasa Indonesia gratis, novel Kristen klasik, sastra Kristen bahasa Indonesia, novel tentang mengikut Yesus, apa yang akan Yesus lakukan, Charles M. Sheldon bahasa Indonesia, Mengikuti Jejak-Nya Bab 1, novel Kristen domain publik, bacaan rohani Kristen gratis, terjemahan Lilian Roma Parsaulian