Mengikuti Jejak-Nya
Bab Tiga: Pilihan Edward Norman
“Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
EDWARD NORMAN, redaktur surat kabar Raymond DAILY NEWS, duduk di ruang kerjanya Senin pagi itu, bersiap menghadapi dunia yang menuntutnya untuk bertindak dengan cara baru. Ia telah berikrar dengan tulus untuk melakukan segala sesuatu setelah bertanya, “Apa yang akan Yesus lakukan?” Sebagaimana mestinya, ia berjanji dengan kesadaran akan segala kemungkinan akibatnya. Namun, ketika denyut rutin surat kabar itu mulai bergulir dalam hiruk pikuk kesibukan minggu yang baru, ia ragu, dan perasaan yang hampir menyerupai rasa takut pun timbul.
Ia sudah tiba di kantor pagi-pagi sekali dan, selama beberapa menit, ia sendirian. Ia duduk di kursi kerjanya dalam perenungan yang kian mendalam. Perenungannya itu akhirnya menjadi sebuah kerinduan besar yang ia sadari sangat tidak lazim. Ia belum menyadari, sebagaimana semua orang dalam kelompok kecil yang berikrar untuk melakukan hal yang selaras dengan teladan Kristus, bahwa Roh Kehidupan sedang berkarya dengan penuh kuasa di dalam hidupnya melampaui masa-masa sebelumnya. Ia bangkit lalu menutup pintu. Kemudian, ia melakukan apa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia perbuat. Ia berlutut di samping meja kerjanya dan berdoa memohon Hadirat Ilahi serta hikmat untuk membimbingnya.
Ia bangkit menyongsong hari di hadapannya, dan ikrarnya terpatri jelas dalam benaknya. “Kini saatnya bertindak,” seolah itulah yang hendak ia katakan. Namun, ia akan memberi dirinya dituntun setiap peristiwa seiring peristiwa itu datang.
Ia membuka pintunya, dan mulai menjalani rutinitas pekerjaan kantor. Redaktur pelaksana baru saja tiba dan duduk di mejanya di ruang sebelah. Salah seorang wartawan sedang mengetik sesuatu dengan riuh. Edward Norman mulai menulis tajuk berita. DAILY NEWS adalah surat kabar sore, dan Norman biasanya menyelesaikan tajuk utamanya sebelum pukul sembilan.
Baru lima belis menit ia menulis ketika redaktur pelaksana berkata: “Ini ada laporan pers pertandingan tinju kemarin di Resort. Isinya akan memakan tiga setengah kolom. Saya kira semuanya akan dimuat, bukan?"
Norman tergolong insan pers yang selalu mengawasi setiap perincian surat kabarnya. Sang redaktur pelaksana selalu minta pertimbangan pimpinannya, baik dalam hal-hal kecil maupun besar. Kadang, seperti kali ini, pertanyaan itu sebenarnya hanya basa-basi.
“Ya—Tidak. Coba kulihat dulu.”
Ia ambil naskah ketikan itu tepat seperti saat baru diterima dari redaktur telegraf, lalu menelaahnya dengan saksama. Kemudian, ia letakkan lembaran-lembaran itu di mejanya dan berpikir keras.
“Kita tidak akan memuat ini hari ini,” ujarnya akhirnya.
Redaktur pelaksana tengah berdiri di ambang pintu penghubung dua ruangan itu. Ia terkejut mendengar ucapan pimpinannya, dan mengira mungkin ia salah dengar.
“Bapak bilang apa?”
“Keluarkan laporan itu. Kita tidak akan memakainya.”
“Tapi—” Redaktur pelaksana itu bingung. Ia menatap Norman seolah orang itu sudah kehilangan akal.
“Menurutku, Clark, laporan pers itu tidak sepatutnya dicetak, dan itu keputusan terakhir,” kata Norman sambil mendongak dari mejanya.
Clark jarang sekali berbantah dengan sang pimpinan. Perkataan Norman selalu menjadi ketetapan mutlak di kantor itu, dan jarang dia diketahui mengubah keputusannya. Namun, keadaan kali ini tampaknya begitu luar biasa sehingga Clark tak dapat menahan diri untuk berbicara.
“Maksud Bapak, surat kabar ini akan naik cetak tanpa satu kata pun tentang pertandingan tinju itu di dalamnya?”
“Ya. Begitulah maksudku.”
“Tapi ini belum pernah terjadi. Semua surat kabar lain pasti akan memuatnya. Apa kata para pelanggan kita nanti? Ini benar-benar—” Clark terdiam, tak sanggup menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan pikirannya.
Norman menatap Clark dengan saksama. Redaktur pelaksana itu anggota gereja yang denominasinya berbeda dengan gereja Norman. Kedua orang itu belum pernah berbincang mengenai masalah keagamaan, meski sudah bertahun-tahun bekerja bersama di surat kabar itu.
“Masuklah sebentar, Clark, dan tutup pintunya,” kata Norman.
Clark masuk, dan kedua orang itu saling berhadapan berdua saja. Selama beberapa saat, Norman tak berbicara. Kemudian ia berkata tanpa basa-basi: “Clark, seandainya Kristus redaktur surat kabar harian, sejujurnya, apakah menurutmu Dia akan akan memuat tiga setengah kolom mengenai pertandingan tinju di dalamnya?”
“Tidak, saya kira Dia tidak akan melakukannya.”
“Nah, itulah satu-satunya alasanku mengeluarkan laporan ini dari NEWS. Aku sudah memutuskan untuk tidak melakukan satu hal pun yang berkaitan dengan surat kabar ini, selama setahun penuh, jika aku sungguh-sungguh yakin Yesus tidak akan melakukannya.”
Clark tidak mungkin lebih terpana lagi bahkan seandainya sang pimpinan mendadak gila. Ia sudah mengira pasti ada yang tidak beres, meski menurut penilaiannya, Pak Norman termasuk orang yang paling mustahil kehilangan akal.
“Apa dampaknya nanti terhadap surat kabar ini?” akhirnya ia berhasil bertanya dengan suara lirih.
“Menurutmu apa?” tanya Norman dengan tatapan tajam.
“Menurut saya, itu akan menghancurkan surat kabar ini,” sahut Clark tanpa ragu. Ia mengumpulkan kembali akal sehatnya yang terguncang, lalu mulai berbantah, “Begini, Pak, tidak mungkin menjalankan surat kabar di zaman sekarang dengan dasar semacam itu. Itu terlalu ideal. Dunia belum siap untuk itu. Bapak tidak akan bisa menghasilkan keuntungan. Sudah pasti, jika Bapak membuang laporan pertandingan tinju ini, Bapak akan kehilangan ratusan pelanggan. Tak perlu nubuatan nabi untuk mengetahuinya. Kalangan masyarakat terpandang di kota ini sangat ingin membacanya. Mereka tahu pertandingan itu sudah dilangsungkan, dan ketika mereka menerima surat kabar sore ini, mereka berharap membaca laporannya setidaknya setengah halaman. Sungguh, Bapak tidak bisa mengabaikan keinginan publik sampai sejauh itu. Menurut saya, itu akan menjadi kesalahan besar kalau Bapak nekat.”
Sejenak, Norman duduk dalam diam. Kemudian, ia berbicara dengan lembut, tapi tegas.
“Clark, sejujurnya, menurutmu apa tolok ukur yang tepat untuk menentukan tingkah laku seseorang? Apakah satu-satunya tolok ukur yang benar bagi setiap orang adalah apa yang kiranya akan dilakukan Yesus Kristus? Dapatkah dikatakan bahwa hukum tertinggi dan terbaik bagi hidup seseorang termaktub dalam pertanyaan, ‘Apa yang akan Yesus lakukan?’ lalu menjalankannya tanpa memedulikan akibatnya? Dengan kata lain, apakah menurutmu setiap orang di mana pun sepatutnya mengikuti teladan Yesus sedekat mungkin dalam kehidupan mereka sehari-hari?” Wajah Clark memerah, dan ia bergerak gelisah di kursinya sebelum menjawab pertanyaan sang redaktur.
“Yah, ya, saya kira kalau Bapak meletakkannya atas dasar apa yang seharusnya dilakukan orang, memang tidak ada tolok ukur tingkah laku yang lain. Namun pertanyaannya, apa yang bisa diterapkan? Apa bisa menguntungkan? Agar berhasil dalam bisnis surat kabar, kita harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan cara-cara yang berlaku di masyarakat. Kita tidak bisa berbuat seenak hati seolah kita berada di dunia yang ideal.”
“Maksudmu, kita tidak bisa menjalankan surat kabar ini dengan berpegang teguh pada asas-asas Kristen dan tetap membuatnya berhasil?”
“Ya, persis itulah maksud saya. Itu mustahil. Kita akan bangkrut dalam tiga puluh hari.”
Norman tidak langsung menjawab. Ia berpikir amat mendalam.
“Mari bicarakan ini lain kali, Clark. Sementara itu, kurasa kita harus berusaha saling memahami. Saya telah berjanji pada diri sendiri untuk sejujur mungkin selama setahun melakukan segala hal yang berkaitan dengan surat kabar ini setelah menjawab pertanyaan, ‘Apa yang akan Yesus lakukan?’ Saya akan terus melakukannya dengan keyakinan bahwa kita bukan hanya bisa berhasil, melainkan bisa lebih berhasil daripada sebelumnya.”
Clark bangkit berdiri. “Jadi, laporan ini tidak dimuat?”
“Tidak. Ada banyak bahan bagus untuk menggantikannya, dan kau tahu apa saja itu.”
Clark ragu-ragu. “Apakah Bapak akan memberi penjelasan tentang tidak dimuatnya laporan itu?”
“Tidak. Biarkan surat kabar ini naik cetak seakan-akan tidak pernah ada pertandingan tinju kemarin.”
Clark melangkah keluar ruangan itu menuju mejanya sendiri dengan perasaan seolah-olah segala tumpuan hidupnya telah runtuh. Ia terkejut, bingung, gelisah, dan amat jengkel. Rasa hormatnya yang mendalam kepada Norman menahan kemarahan serta rasa kesal yang membuncah dalam dirinya. Namun, ia juga penasaran dengan perubahan motif mendadak yang memasuki kantor DAILY NEWS dan—sebagaimana ia yakini sepenuh hati—mengancam akan menghancurkannya.
Sebelum tengah hari, setiap wartawan, operator mesin cetak, dan karyawan DAILY NEWS telah diberi tahu mengenai peristiwa luar biasa bahwa surat kabar itu akan naik cetak tanpa sepatah kata pun mengenai pertandingan tinju besar pada hari Minggu itu. Para wartawan benar-benar terperangah saat pengumuman itu disampaikan. Setiap orang di ruang stereotipe dan ruang penyusunan huruf memiliki komentar tersendiri mengenai penghilangan berita yang belum pernah terjadi tersebut. Dua atau tiga kali sepanjang hari itu, saat Pak Norman meninjau ruang penyusunan huruf, pegawai menghentikan pekerjaan mereka atau melirik dari balik kotak cetak huruf sambil menatapnya dengan penasaran. Ia tahu sedang diamati, tapi tak berkata apa-apa dan tak menampakkan bahwa ia menghiraukannya.
Ada beberapa perubahan kecil pada surat kabar itu, yang disarankan oleh redaktur, tapi tak ada yang mencolok. Ia tengah menunggu dan berpikir amat mendalam.
Ia merasa butuh waktu dan kesempatan yang cukup untuk menggunakan pertimbangan terbaiknya sebelum ia dapat menjawab pertanyaan yang terus membayangi itu dengan cara yang tepat. Bukan karena tidak banyak hal dalam kehidupan surat kabar itu yang bertentangan dengan roh Kristus sehingga ia tidak segera bertindak, melainkan karena ia sendiri masih benar-benar ragu perihal tindakan apa yang sekiranya akan diambil oleh Yesus.
Ketika DAILY NEWS terbit sore itu, terjadi kehebohan di antara para pelanggannya.
Kehadiran laporan pertandingan tinju itu takkan menimbulkan dampak yang sebanding dengan ketiadaannya. Ratusan orang di hotel-hotel dan toko-toko di pusat kota, beserta para pelanggan tetap, dengan penuh semangat membuka koran itu dari awal sampai akhir, dan mencari laporan pertandingan besar itu. Ketika tidak menemukannya, mereka bergegas ke kios-kios koran dan membeli surat kabar lainnya. Bahkan loper koran pun belum menyadari ihwal penghilangan berita itu. Salah seorang dari mereka berteriak lantang, “DAILY NEWS! Laporan lengkap pertandingan tinju akbar di Resort. Mau koran, Pak?”
Seorang pria di sudut jalan raya dekat kantor NEWS membeli surat kabar itu, melihat halaman depannya sekilas, lalu dengan marah memanggil anak itu kembali.
“Hei, Nak! Bagaimana koranmu ini? Tak ada pertandingan tinju di sini! Apa maksudmu menjual koran lama?”
“Koran lama bagaimana, enak saja!” sahut anak itu dengan sengit. “Itu koran hari ini. Kenapa sih Bapak ini?”
“Tapi tak ada berita pertandingan tinju di sini! Lihatlah!”
Orang itu menyodorkan kembali koran tersebut, dan si anak meliriknya dengan cepat. Kemudian ia bersiul, sementara raut kebingungan mulai terlihat di wajahnya. Melihat seorang anak lain lewat sambil membawa koran, ia berseru, “Eh, Sam, coba kulihat koranmu.” Pemeriksaan cepat mengungkapkan kenyataan luar biasa bahwa semua eksemplar NEWS tak melaporkan apa pun perihal pertandingan tinju itu.
“Nih, kasih aku koran yang lain!” teriak si pembeli, “yang ada laporan pertandingan tinjunya.”
Ia menerimanya lalu melenggang pergi, sementara kedua anak itu masih membandingkan lembaran koran dan tenggelam dalam keheranan atas kejadian itu. “Pasti, ada yang salah setelan di NEWS,” kata anak pertama. Namun ia tak tahu apa sebabnya, lalu bergegas berlari ke kantor NEWS untuk mencari tahu.
Ada beberapa anak lain di ruang distribusi, dan mereka semua gelisah dan kesal. Banyaknya gerutuan kasar yang dilontarkan kepada petugas di balik meja panjang itu pasti sudah membuat orang lain putus asa.
Namun, petugas itu sudah biasa dengan cercaan semacam itu sehingga ia sudah kebal. Pak Norman baru saja menuruni tangga untuk pulang, dan ia berhenti sejenak saat melintasi pintu ruang distribusi, lalu melongok ke dalam.
“Ada masalah apa ini, George?” tanyanya kepada petugas itu tatkala memerhatikan kegaduhan yang tidak biasa itu.
“Anak-anak ini bilang mereka tak bisa menjual satu eksemplar pun koran NEWS sore ini karena pertandingan tinju itu tidak dimuat,” jawab George, sambil menatap sang redaktur dengan rasa ingin tahu sebagaimana yang telah dilakukan banyak karyawan lainnya sepanjang hari itu. Pak Norman ragu-ragu sejenak, lalu melangkah memasuki ruangan itu dan menghadapi anak-anak itu.
“Berapa eksemplar koran yang ada di sini? Anak-anak, hitunglah semuanya. Aku akan memborongnya malam ini.”
Anak-anak itu menatap dengan terbelalak sekaligus cepat-cepat menghitung korannya.
“Beri mereka uangnya, George, dan jika ada anak lain yang datang dengan keluhan serupa, belilah eksemplar mereka yang tidak terjual. Apakah itu adil?” tanyanya kepada anak-anak yang mendadak terdiam tak seperti biasanya oleh tindakan redaktur yang belum pernah terjadi itu.
“Adil! Tapi apa Bapak bakal terus melakukan ini? Apakah ini bakal jadi tindakan tetap demi kebaikan kami-kami ini?”
Pak Norman tersenyum tipis, tapi ia merasa tak perlu menjawab pertanyaan itu.
Ia berjalan keluar dari kantor dan pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, ia tak bisa mengelak dari pertanyaan yang terus menderanya itu, “Apakah Yesus akan melakukan itu?” Pertanyaan itu bukan sekadar menyangkut urusan terakhir tadi, melainkan menyangkut seluruh motif yang mendorongnya sejak ia membuat janji itu.
Anak-anak penjual koran itu tak pelak lagi menjadi pihak yang dirugikan akibat tindakan yang telah ia ambil. Kenapa mereka harus kehilangan uang karenanya? Mereka tidak bersalah. Ia orang yang berkecukupan, dan ia mampu menabur sedikit keceriaan dalam hidup mereka jika mau. Ia meyakini, seraya melangkah pulang ke rumahnya, bahwa Yesus akan melakukan apa yang telah ia perbuat atau sesuatu yang serupa demi terbebas dari rasa bersalah atas ketidakadilan.
Ia tidak sedang menetapkan putusan-putusan ini bagi orang lain, melainkan bagi perbuatannya sendiri. Ia tak berada dalam posisi untuk berlagak menggurui, dan ia merasa bahwa ia hanya dapat menjawab dengan pertimbangan serta nuraninya sendiri mengenai penafsirannya atas tindakan yang sekiranya akan diambil oleh Junjungannya. Sampai batas tertentu, merosotnya penjualan surat kabar itu sudah ia perkirakan. Namun, ia belum tahu sepenuhnya berapa besar kerugian yang akan diderita surat kabar itu, apabila kebijakan semacam itu terus dijalankan.
Mengikuti Jejak-Nya, Mengikuti Jejak-Nya Charles M. Sheldon, In His Steps bahasa Indonesia, terjemahan In His Steps bahasa Indonesia, baca In His Steps bahasa Indonesia gratis, novel Kristen klasik, sastra Kristen bahasa Indonesia, novel tentang mengikut Yesus, apa yang akan Yesus lakukan, Charles M. Sheldon bahasa Indonesia, Mengikuti Jejak-Nya Bab 1, novel Kristen domain publik, bacaan rohani Kristen gratis, terjemahan Lilian Roma Parsaulian