Mengikuti Jejak-Nya
Bab Delapan: Sisi Moral Persoal Politik
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Henry Maxwell melangkah mondar-mandir di ruang kerjanya. Hari itu hari Rabu, dan ia mulai memikirkan pokok bahasan khotbah untuk kebaktian petang nanti. Dari salah satu jendela ruang kerjanya, ia dapat melihat cerobong asap bengkel kereta api yang menjulang tinggi. Puncak tenda sang penginjil tampak menyembul di balik bangunan-bangunan di sekitar The Rectangle. Setiap kali ia berbalik langkah, ia memandang ke luar jendela. Beberapa saat kemudian, ia duduk di mejanya dan menarik selembar kertas besar ke hadapannya. Setelah merenung beberapa saat, ia menuliskan kalimat berikut dengan huruf besar:
HAL-HAL YANG MUNGKIN AKAN YESUS LAKUKAN DI JEMAAT INI
Hidup dengan cara yang bersahaja dan sederhana, tanpa kemewahan yang tak perlu di satu sisi, tapi juga tidak menyiksa diri secara berlebihan di sisi lain. Berkhotbah tanpa gentar kepada orang-orang munafik di dalam gereja, tak peduli betapa tinggi pun kedudukan sosial atau kekayaan mereka. Menunjukkan simpati dan kasih-Nya dalam wujud nyata kepada orang biasa, sebagaimana kepada orang berada, terpelajar, dan terpandang yang merupakan mayoritas di jemaat ini. Menyatukan Diri-Nya dengan perjuangan-perjuangan besar kemanusiaan melalui cara pribadi yang menuntut penyangkalan diri dan penderitaan. Berkhotbah menentang keberadaan kedai-kedai minuman keras di Raymond. Dikenal sebagai sahabat dan kawan orang berdosa di Kawasan Rectangle. Membatalkan wisata musim panas ke Eropa tahun ini. (Aku sudah dua kali ke luar negeri, dan aku tak memiliki alasan khusus yang mengharuskanku beristirahat. Kondisiku sehat, dan aku bisa melepaskan kesenangan ini, lalu menggunakan uang tersebut bagi orang yang lebih membutuhkan liburan dibandingkan diriku. Kemungkinan, ada banyak orang seperti itu di kota ini.)
Ia sadar, dengan kerendahan hati yang dulu asing baginya, bahwa pokok gagasannya mengenai apa yang kira-kira akan Yesus lakukan itu terasa sangat kurang, baik kedalaman maupun kuasanya, tapi ia berusaha sungguh-sungguh menuangkan pikirannya tentang wujud konkret apa yang akan dilakukan Yesus. Hampir setiap butir yang ia tuliskan menuntut perombakan total atas kebiasaan bertahun-tahun dalam pelayanannya sebagai pendeta. Kendati demikian, ia terus menggali lebih dalam untuk menemukan sumber daya agar memiliki roh yang seperti Kristus. Ia tak mencoba menulis lebih banyak lagi, melainkan duduk di mejanya, terhanyut dalam ikhtiarnya untuk semakin menyerupai roh Yesus di dalam kehidupannya sendiri. Ia telah melupakan pokok bahasan khusus untuk pertemuan doanya, yang justru menjadi awal perenungannya pagi itu.
Ia sedemikian larut dalam pikirannya sampai tak mendengar bel berbunyi. Ia tersentak tatkala seorang pelayan masuk dan memberitahukan kedatangan seorang tamu. Tamu itu sudah memberitahukan namanya, Pak Gray.
Maxwell melangkah ke ujung tangga dan mempersilakan Gray naik. Maka Gray pun naik ke lantai atas, lalu mengutarakan maksud kedatangannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu, Pak Maxwell. Bapak tentu sudah mendengar betapa luar biasanya kebaktian kami pada Senin malam dan tadi malam. Suara Nona Winslow jauh lebih efektif menjangkau orang daripada aku, dan tenda itu sudah tak muat lagi menampung orang yang datang.”
“Aku sudah mendengarnya. Ini kali pertama orang-orang di sana mendengarkan suaranya. Tak heran mereka begitu terpikat.”
“Bagi kami, itu pewahyuan yang luar biasa, sekaligus peristiwa yang sangat membesarkan hati dalam pelayanan kami. Namun, kedatanganku ini untuk meminta bantuan Bapak. Apakah kiranya Bapak bisa datang malam ini dan berkhotbah. Aku sedang flu berat. Aku tak berani memaksakan suaraku lagi. Aku tahu ini permintaan yang teramat besar bagi orang sesibuk Bapak. Jika Bapak tak bisa, tak apa-apa berterus terang, dan aku akan mencari pengganti lain.”
“Maaf, tapi malam ini ada pertemuan doa rutin kami,” awalnya Henry Maxwell menjawab demikian. Namun wajahnya seketika bersemu merah, dan ia menambahkan, “Aku akan berusaha mengaturnya agar bisa datang ke sana. Kau tenang saja.”
Gray mengucapkan terima kasih dengan tulus lalu bangkit untuk berpamitan.
“Bersediakah kau tinggal sebentar, Gray, agar kita bisa berdoa bersama?”
“Tentu,” sahut Gray cepat.
Mereka berdua pun berlutut bersama di ruang kerja itu. Henry Maxwell berdoa bagaikan seorang anak kecil. Hati Gray tersentuh hingga meneteskan air mata saat berlutut di sana. Ada sesuatu yang mengharukan dalam cara orang ini—yang telah menjalani masa pelayanannya dalam lingkup yang sedemikian sempit—kini bersujud memohon hikmat dan kekuatan demi menyampaikan pesan kepada orang-orang di The Rectangle.
Gray bangkit dan mengulurkan tangannya. “Tuhan memberkatimu, Pak Maxwell. Saya yakin Roh Kudus akan memberi Bapak kuasa malam ini.”
Henry Maxwell tidak menjawab. Ia bahkan tak berani mengatakan bahwa ia juga berharap demikian. Namun, ia teringat akan janjinya, dan itu mendatangkan suatu kedamaian yang menyegarkan hati sekaligus pikirannya.
Maka demikianlah yang terjadi, ketika jemaat Gereja Pertama memasuki ruang serbaguna gereja petang itu, mereka mendapati kejutan yang lain lagi. Jumlah yang hadir luar biasa banyak. Semenjak kebaktian Minggu pagi yang mengguncang itu, pertemuan doa dihadiri jemaat dalam jumlah yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Gereja Pertama. Pak Maxwell langsung berbicara ke intinya.
“Saya merasa terpanggil untuk pergi ke The Rectangle malam ini, dan saya serahkan kepada saudara-saudara sekalian apakah akan melanjutkan persekutuan di sini. Menurut hemat saya, yang terbaik adalah beberapa relawan ikut bersama saya ke The Rectangle untuk membantu sesi konseling pribadi, jika diperlukan, sementara yang lain tetap tinggal di sini dan berdoa memohon kuasa Roh Kudus menyertai langkah kami.”
Maka enam orang jemaat pria berangkat menyertai sang pendeta, sementara jemaat selebihnya tetap tinggal di ruang persekutuan. Ketika meninggalkan ruangan itu, Maxwell tak bisa menepis pikiran bahwa di antara seluruh jemaatnya mungkin tak sampai dua puluh murid yang bisa berhasil menuntun orang berdosa yang membutuhkan kepada pengenalan akan Kristus. Pikiran itu tak berlama-lama mengusik benaknya di sepanjang jalan, melainkan semata-mata menjadi bagian dari keseluruhan pemahamannya yang baru tentang arti sejati pemuridan Kristen.
Ketika ia beserta rombongan kecil relawan itu tiba di The Rectangle, tenda itu telah dipadati lautan manusia. Mereka bersusah payah menembus kerumunan menuju panggung. Rachel sudah ada di sana bersama Virginia dan Jasper Chase, yang datang menggantikan sang Dokter malam itu.
Tatkala kebaktian dimulai dengan sebuah kidung yang dibawakan secara solo oleh Rachel, lalu orang-orang diajak bersama-sama menyanyikan bagian refrainnya, tak ada lagi sejengkal pun ruang yang tersisa untuk berdiri di dalam tenda itu. Udara malam itu sejuk, sisi-sisi tenda digulung ke atas, dan bentangan wajah-wajah manusia mengelilingi tempat itu, menengok ke dalam dan turut menjadi bagian dari orang yang hadir. Setelah nyanyian, dan doa yang dibawakan oleh salah seorang pendeta kota yang hadir, Gray menjelaskan alasan ketidaksanggupannya berbicara, lalu dengan caranya yang sederhana menyerahkan ibadah itu kepada “Saudara Maxwell dari Gereja Pertama.”
“Siapa orang itu?” tanya sebuah suara serak di dekat bagian luar tenda.
“Pendeta Gereja Pertama. Malam ini kita kedatangan seluruh rombongan orang keren kelas atas.”
“Kau bilang Gereja Pertama? Aku kenal dia. Pemilik tanahku punya bangku paling depan di sana,” timpal suara lain, disusul gelak tawa, sebab yang berbicara itu seorang pemilik kedai minuman keras.
“Lemparkanlah tali penyelamat menyeberangi gelombang gelap!” seorang yang mabuk di dekat situ mulai menyanyi, tanpa sadar ia menirukan suara sengau penyanyi keliling setempat, sehingga meledaklah gelak tawa dan sorak ejekan di sekelilingnya. Orang-orang di dalam tenda menoleh ke arah keributan itu. Terdengar teriakan, “Usir dia!” “Beri Gereja Pertama kesempatan!” “Nyanyi! Nyanyi! Beri kami satu lagu lagi!”
Henry Maxwell bangkit berdiri, dan gelombang rasa takut menjalari sekujur tubuhnya. Situasi ini sungguh berbeda dengan berkhotbah di hadapan orang-orang terpandang, berpakaian rapi, dan bertata krama luhur di jalan raya utama kota. Ia mulai berbicara, tapi kegaduhan kian menjadi-jadi. Gray menghampiri kerumunan itu, tapi tampaknya tak sanggup menenangkannya. Maxwell mengangkat tangan dan mengeraskan suaranya. Kerumunan di dalam tenda mulai memberikan sedikit perhatian, tapi kegaduhan di luar kian bertambah gaduh. Dalam beberapa menit saja, orang-orang sudah berada di luar kendalinya. Ia menoleh ke arah Rachel dengan senyum muram.
“Nyanyikanlah sesuatu, Nona Winslow. Mereka pasti akan mendengarkanmu,” ujarnya, lalu duduk kembali dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ini kesempatan bagi Rachel, dan ia membuktikan dirinya sungguh cakap menghadapinya. Virginia duduk di depan organ, dan Rachel memintanya memainkan beberapa nada pembuka nyanyian itu.
“Ya Juruselamat, ‘ku turut,
Dibimbing oleh-Mu,
Kendati belum tampak nyata
Tangan yang menuntunku.
Tentramlah hatiku, tenang,
Tak lagi kutakut bahaya,
Asalkan itu kehendak-Mu,
Itu pun kehendakku.”
Belum selesai Rachel melantunkan baris pertama, semua orang di dalam tenda telah berpaling kepadanya, terdiam takzim dan khidmat. Sebelum bait itu usai, The Rectangle sudah takluk dan jinak. Kawasan itu berbaring bak seekor binatang buas di kakinya, dan ia menjinakkannya lewat nyanyian hingga tak lagi berbahaya. Ah! Apalah artinya hadirin yang dangkal, wangi, dan gemar mencela di gedung-gedung konser dibandingkan dengan kumpulan manusia yang kotor, mabuk, cemar, dan terlena dalam dosa ini, yang kini bergetar, menangis, dan mendadak tersentuh penuh haru oleh jamahan pelayanan ilahi gadis jelita ini. Pdt. Maxwell, tatkala mengangkat kepalanya dan menyaksikan kerumunan yang sudah berubah itu, sekilas menangkap apa yang kira-kira akan Yesus lakukan dengan suara seperti yang dimiliki Rachel Winslow.
Jasper Chase duduk terpaku menatap sang penyanyi, dan kerinduan terbesarnya sebagai penulis ambisius tenggelam dalam pikirannya tentang arti kasih Rachel Winslow baginya kelak. Dan di sudut temaram di luar tenda, berdirilah sosok yang paling tak disangka hadir dalam kebaktian di tenda penginjilan, dialah Rollin Page. Meski didorong-dorong dari segala penjuru oleh orang-orang kasar yang memelototi busananya yang perlente, ia tampak tak memedulikan sekelilingnya dan jelas-jelas terhanyut oleh pesona yang dipancarkan Rachel. Ia baru saja datang dari kelab. Baik Rachel maupun Virginia tidak melihat kehadirannya malam itu.
Nyanyian itu pun berakhir. Maxwell bangkit berdiri lagi. Kali ini, ia lebih tenang. Apa yang akan Yesus lakukan? Ia berbicara dengan cara yang dulunya ia kira takkan pernah bisa ia lakukan. Siapakah orang-orang ini? Mereka jiwa-jiwa yang abadi. Apakah hakikat kekristenan? Suatu panggilan kepada orang berdosa, bukan kepada orang benar, untuk bertobat. Bagaimana Yesus akan berbicara? Apa yang akan Dia katakan? Maxwell tak dapat menjelaskan seluruh isi pesan yang akan disampaikan-Nya, tapi ia merasa yakin akan sebagian darinya. Dan dalam kepastian itulah ia terus berbicara.
Belum pernah sebelumnya ia merasakan “belas kasihan kepada orang banyak”. Apakah arti orang banyak itu baginya selama sepuluh tahun pelayanannya di Gereja Pertama, selain unsur masyarakat yang tidak jelas, berbahaya, kotor, dan merepotkan, orang-orang yang berada di luar jangkauan gereja dan di luar jangkauannya. Mereka sesekali menimbulkan sengatan hati nurani yang tak menyenangkan dalam dirinya. Mereka adalah bagian di Raymond yang dibicarakan dalam ibadah persekutuan sebagai “massa”. Mereka juga dibahas oleh orang-orang Kristen yang berusaha menjelaskan mengapa “massa” itu tidak terjangkau.
Namun, malam ini, tatkala ia berhadapan langsung dengan massa itu, ia bertanya kepada dirinya sendiri, bukankah inilah kira-kira jenis orang banyak yang paling sering dihadapi Yesus. Dan ia merasakan gelora kasih sejati kepada orang banyak itu. Kasih sejati itu merupakan salah satu pertanda terbaik bagi seorang pengkhotbah bahwa ia hidup dekat dengan denyut jantung Sang Hidup Kekal dunia ini. Mudah untuk mengasihi pendosa secara perorangan, terlebih bila sosoknya menarik atau memikat. Namun, mengasihi sekumpulan orang berdosa secara bersamaan merupakan wujud nyata dari watak yang menyerupai Kristus.
Ketika kebaktian itu berakhir, orang-orang yang hadir tidak tampak sangat terkesan. Tak seorang pun tinggal untuk acara setelah kebaktian. Orang-orang bergegas membubarkan diri meninggalkan tenda. Kedai-kedai minuman keras, yang sempat sepi pelanggan sepanjang kebaktian berlangsung, kembali meraup laba yang melimpah. Kawasan Rectangle, seolah hendak mengganti waktu yang hilang, memulai pesta pora malamnya yang biasa dengan penuh semangat. Maxwell dan rombongan kecilnya, termasuk Virginia, Rachel, dan Jasper Chase, berjalan melewati deretan kedai minuman keras dan sarang-sarang maksiat itu hingga mereka tiba di sudut jalan tempat trem lewat.
“Ini tempat yang amat mengerikan,” ujar sang pendeta seraya berdiri menanti trem mereka tiba. “Aku tak pernah menyangka Raymond memiliki borok yang sedemikian parahnya. Rasanya mustahil membayangkan tempat ini berada di sebuah kota yang penuh dengan murid-murid Kristus.”
“Menurut Bapak, akankah ada orang yang bisa menyingkirkan kutuk minuman keras yang begitu besar ini?” tanya Jasper Chase.
“Akhir-akhir ini, saya sering berpikir sungguh-sungguh, lebih dari yang sudah-sudah, perihal apa yang dapat diperbuat orang Kristen guna menghapuskan kutuk kedai minuman keras ini. Mengapa kita tidak bertindak bersama-sama menentangnya? Mengapa para pendeta Kristen dan jemaat gereja di Raymond tidak bergerak serentak menjadi satu melawan perdagangan minuman keras ini? Apa yang akan Yesus lakukan? Apakah Dia akan berdiam diri? Apakah Dia akan memberikan suara-Nya untuk melegalkan sumber-sumber kejahatan dan kematian ini?”
Ia berbicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain. Ia teringat bahwa selama ini ia selalu memilih untuk mendukung legalisasi kedai minuman, demikian pula dengan hampir semua jemaatnya. Apa yang akan Yesus lakukan? Bisakah ia menjawab pertanyaan itu? Apakah Sang Guru akan berkhotbah dan bertindak menentang kedai minuman keras seandainya Dia hidup pada masa kini? Bagaimana Dia akan berkhotbah dan bertindak? Bagaimana jika berkhotbah menentang legalisasi itu tak disukai banyak orang? Bagaimana jika orang Kristen menganggap bahwa melegalkan kejahatan tersebut dan memperoleh pendapatan dari dosa yang tak terhindarkan itu adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh? Atau bagaimana jika justru jemaat sendiri yang memiliki bangunan tempat kedai-kedai minuman keras itu berdiri? Lalu bagaimana? Ia tahu betul bahwa demikianlah kenyataan yang terjadi di Raymond. Apa yang akan Yesus lakukan?
Keesokan paginya, ia melangkah ke ruang kerjanya dengan pertanyaan yang baru terjawab sebagian itu. Ia merenungkannya sepanjang hari. Ia masih terus merenungkannya, dan mulai menarik sejumlah kesimpulan, ketika harian EVENING NEWS tiba. Istrinya membawa surat kabar itu naik, lalu duduk beberapa menit, sementara Maxwell membacakannya untuk istrinya.
Pada saat itu, EVENING NEWS merupakan surat kabar yang paling menghebohkan di seantero Raymond. Maksudnya, koran itu disunting sedemikian luar biasanya sehingga para pelanggannya belum pernah segempar itu terkait sebuah surat kabar. Mula-mula, mereka melihat ketiadaan berita pertandingan tinju itu. Lama kelamaan, mereka mulai menyadari bahwa NEWS tak lagi memuat laporan-laporan kriminal dengan rincian yang vulgar, ataupun skandal-skandal kehidupan pribadi. Kemudian, mereka mendapati iklan minuman keras dan tembakau ditiadakan, begitu pula sejumlah iklan lain yang diragukan kepantasannya. Penghentian terbitan edisi hari Minggu menimbulkan paling banyak komentar. Dan kini, corak tajuk rencananya memicu kegemparan yang sangat besar. Kutipan dari surat kabar terbitan hari Senin pada pekan ini memperlihatkan apa yang sedang dilakukan Edward Norman untuk menepati janjinya. Tajuk rencana itu berjudul:
SISI MORAL PERSOALAN POLITIK
Redaktur NEWS selama ini selalu memperjuangkan asas-asas partai politik besar yang kini berkuasa. Hingga kini, NEWS membahas segala persoalan politik dari sudut pandang kemanfaatan belaka, atau demi membela partai dalam persaingannya melawan organisasi politik lainnya. Mulai saat ini, agar dapat bersikap sepenuhnya jujur kepada segenap pembaca kami, redaktur akan menyajikan dan membahas setiap persoalan politik dari sudut pandang benar dan salah. Dengan kata lain, pertanyaan pertama yang diajukan di harian ini mengenai persoalan politik bukanlah, “Apakah ini menguntungkan partai kita?” ataupun, “Apakah ini sesuai dengan asas-asas yang digariskan partai kita dalam landasannya?” Sebaliknya, pertanyaan pertama yang diajukan ialah, “Apakah kebijakan ini selaras dengan roh dan ajaran Yesus sebagai sumber standar kehidupan paling agung yang dikenal manusia?” Dengan perkataan lain yang lebih gamblang, sisi moral setiap persoalan politik akan dianggap sebagai sisinya yang terpenting. Kami juga akan mengambil pendirian tegas yang melihat bangsa-bangsa, sebagaimana halnya perorangan, terikat di bawah hukum yang sama untuk melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah sebagai pedoman tindakan yang utama.
Asas yang sama akan dijalankan di kantor harian ini terhadap para calon pemegang jabatan yang menuntut tanggung jawab dan kepercayaan dalam republik ini. Tanpa memandang politik partai, redaktur NEWS akan melakukan segala yang dapat diupayakannya untuk mendudukkan orang-orang terbaik di tampuk kekuasaan, dan tidak akan secara sadar membantu menyokong calon mana pun yang tidak layak untuk menduduki suatu jabatan, tak peduli betapa kuatnya pun dukungan yang diberikan partai kepada orang tersebut. Pertanyaan pertama yang diajukan mengenai seseorang maupun kebijakannya ialah, “Apakah dia orang yang tepat untuk jabatan itu?” “Apakah dia orang baik yang cakap?” “Apakah kebijakan itu benar?”
Masih ada lanjutannya, tapi kutipan ini sudah cukup untuk memperlihatkan sifat tajuk rencana tersebut. Ratusan orang di Raymond membacanya sambil mengucek mata karena tak percaya. Banyak di antara mereka segera mengirimkan surat ke kantor NEWS, meminta redaktur menghentikan langganan koran mereka. Kendati demikian, surat kabar itu tetap terbit dan dibaca dengan penuh rasa ingin tahu di seluruh penjuru kota. Menjelang akhir pekan, Edward Norman menyadari betul bahwa ia telah kehilangan banyak pelanggan dalam jumlah besar dengan sangat cepat. Ia menghadapi keadaan itu dengan tenang, meski Clark, sang redaktur pelaksana, dengan muram telah memperkirakan kebangkrutan mutlak yang tak terelakkan, terutama semenjak tajuk rencana hari Senin itu.
Malam ini, selagi Maxwell membacakan koran itu bagi istrinya, ia dapat melihat di hampir setiap kolom bukti-bukti kepatuhan nurani Norman terhadap janjinya. Sama sekali tak ada lagi judul berita yang bernada murahan, sensasional, dan menakut-nakuti pembaca. Uraian berita di bawah setiap judul benar-benar selaras. Ia memperhatikan pada dua kolom bahwa nama wartawannya tercantum di bagian bawah. Dan tampak kemajuan yang nyata dalam hal wibawa serta mutu gaya tulisan mereka.
“Rupanya Norman mulai mewajibkan para wartawannya menandatangani tulisan mereka. Ia sempat membicarakan hal itu denganku. Itu langkah yang baik. Dengan begitu, ada tanggung jawab yang semestinya pada setiap artikel dan standar tulisan juga terangkat. Itu bagus bagi masyarakat maupun bagi para penulisnya.”
Maxwell tiba-tiba terdiam. Istrinya mendongak dari pekerjaan yang sedang ia kerjakan. Sang pendeta sedang membaca sesuatu dengan perhatian yang sangat besar. “Dengarkan ini, Mary,” ujarnya selang beberapa saat, dengan bibir yang gemetar:
“Pagi ini, Alexander Powers, Kepala Pengawas bengkel kereta api L. dan T. di kota ini, menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada pihak perusahaan itu. Sebagai alasannya, ia menyatakan bahwa tanpa sengaja ia menemukan bukti-bukti pelanggaran perusahaan itu terhadap Undang-Undang Perdagangan Antarnegara Bagian, serta undang-undang negara bagian yang belum lama ini disahkan untuk mencegah serta menghukum praktik kartel perkeretaapian demi menguntungkan pengirim barang tertentu yang memiliki hak istimewa. Dalam surat pengunduran dirinya, Bpk. Powers menyatakan bahwa ia tidak bisa lagi dengan hati nurani yang lurus menyembunyikan informasi yang dimilikinya, yang dapat memberatkan perusahaan itu. Ia bersedia menjadi saksi yang memberatkan perusahaan itu. Ia telah menyerahkan bukti-bukti yang dimilikinya tersebut kepada Komisi, dan kini menyerahkan kepada Komisi mengenai tindakan apa yang akan diambil atasnya.
NEWS hendak menyampaikan pandangannya mengenai tindakan Bpk. Powers ini. Pertama-tama, ia sama sekali tidak mendapat keuntungan apa pun dari langkahnya itu. Ia telah melepaskan suatu jabatan yang sangat terpandang atas kehendaknya sendiri. Padahal, dengan berdiam diri, ia sesungguhnya dapat mempertahankan jabatannya itu. Kedua, kami meyakini bahwa tindakannya patut mendapatkan persetujuan dari segenap warga yang berpikiran lurus dan jujur, yang meyakini pentingnya hukum dipatuhi dan para pelanggar hukum diseret ke meja hijau. Dalam perkara seperti ini, di mana bukti yang memberatkan perusahaan kereta api pada umumnya dipahami sebagai sesuatu yang nyaris mustahil diperoleh, sudah menjadi anggapan umum bahwa para pejabat perusahaan sering kali memegang fakta-fakta yang memberatkan, tapi tidak menganggapnya sebagai urusan mereka untuk memberitahukan kepada pihak berwenang bahwa hukum sedang dilanggar. Akibat mutlak dari pengelakan tanggung jawab oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab ini sungguh merusak akhlak setiap pemuda yang bekerja di perusahaan kereta api. Redaktur NEWS teringat akan pernyataan yang dilontarkan oleh seorang petinggi terkemuka perusahaan kereta api di kota ini beberapa waktu lalu, bahwa hampir semua juru tulis di bagian-bagian di perusahaan kereta api mengetahui bahwa uang dalam jumlah besar diraup melalui pelanggaran licik terhadap Undang-Undang Perdagangan Antarnegara Bagian; mereka mengagumi kelicikan cara melakukannya; dan menyatakan bahwa mereka semua akan melakukan hal yang serupa andai kedudukan mereka di lingkungan perkeretaapian cukup tinggi untuk mencobanya.”
Jelas sekali, keadaan dunia usaha yang demikian sungguh menghancurkan segenap standar tingkah laku yang mulia dan luhur. Tak seorang pemuda pun bisa hidup dalam lingkungan ketidakjujuran dan pelanggaran hukum yang dibiarkan tanpa hukuman semacam itu tanpa meruntuhkan akhlaknya.
Menurut penilaian kami, Bpk. Powers melakukan satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh seorang Kristen. Ia telah menunjukkan pengabdian yang berani dan berguna bagi negara bagian serta masyarakat umum. Tidaklah selalu mudah mengetahui hubungan yang ada antara warga negara sebagai pribadi dan kewajibannya terhadap masyarakat. Dalam perkara ini, tak ada keraguan sedikit pun dalam benak kami bahwa langkah yang diambil oleh Bpk. Powers patut dipuji oleh setiap orang yang percaya pada hukum dan penegakannya. Ada saat-saat di mana seseorang harus bertindak demi kepentingan orang banyak melalui cara-cara yang menuntut pengorbanan serta kerugian yang teramat besar bagi dirinya sendiri. Langkah Bpk. Powers niscaya akan disalahpahami dan diputarbalikkan, tapi tak diragukan lagi bahwa tindakannya akan didukung oleh setiap warga negara yang rindu menyaksikan korporasi terbesar sekalipun tunduk pada hukum yang sama sebagaimana rakyat jelata yang paling lemah. Bpk. Powers telah melakukan segala yang dapat diperbuat oleh seorang warga negara yang setia dan berjiwa patriotik. Kini, tinggal terserah kepada pihak Komisi untuk menindaklanjuti bukti-bukti yang, setahu kami, merupakan bukti tak terbantahkan atas pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak L. dan T. Biarlah hukum ditegakkan, tak peduli siapa pun pihak yang bersalah.
Mengikuti Jejak-Nya, Mengikuti Jejak-Nya Charles M. Sheldon, In His Steps bahasa Indonesia, terjemahan In His Steps bahasa Indonesia, baca In His Steps bahasa Indonesia gratis, novel Kristen klasik, sastra Kristen bahasa Indonesia, novel tentang mengikut Yesus, apa yang akan Yesus lakukan, Charles M. Sheldon bahasa Indonesia, Mengikuti Jejak-Nya Bab 1, novel Kristen domain publik, bacaan rohani Kristen gratis, terjemahan Lilian Roma Parsaulian