Book Translation
In His Steps (Mengikuti Jejak-Nya)
In His Steps (Mengikuti Jejak-Nya)
Sinopsis: Mengikuti Jejak-Nya (In His Steps)
Karya asli: Charles M. Sheldon (1896)
Penerjemah: Lilian Roma Parsaulian
Di kota Raymond, kehidupan jemaat Gereja Pertama tampak sempurna. Gedung ibadahnya megah, paduan suaranya memukau, dan mimbar khotbahnya dipimpin oleh Pdt. Henry Maxwell—seorang pelayan terpelajar yang dihormati kalangan terpandang. Semua tampak mapan, nyaman, dan saleh secara lahiriah.
Namun, ketenangan itu seketika pecah pada suatu Minggu pagi. Seorang pemuda lusuh dan kelaparan melangkah perlahan menyusuri lorong tengah gereja. Di hadapan ratusan pasang mata yang terperangah, ia melontarkan sebuah pertanyaan yang meremukkan rasa puas diri seisi jemaat:
“Apa sebenarnya arti mengikut Yesus? Apakah itu berarti kalian rela menderita, menyangkal diri, dan menyelamatkan yang terhilang—persis seperti yang diperbuat Yesus?”
Peristiwa itu menyadarkan Pdt. Maxwell bahwa selama ini imannya baru sebatas kata-kata di balik mimbar.
Terdorong oleh pergumulan batin yang mendalam, Pdt. Maxwell mengajukan sebuah tantangan radikal kepada anggota gerejanya: bertekad untuk tidak mengambil keputusan apa pun selama satu tahun penuh tanpa terlebih dahulu bertanya dengan sungguh-sungguh: “Apa yang akan Yesus lakukan?” (What Would Jesus Do?)
Tantangan ini tidak hanya berhenti di ruang doa, melainkan merambah ke ranah kehidupan nyata:
Pdt. Henry Maxwell, yang harus menata ulang seluruh prioritas pelayanannya dari sekadar mengejar prestise mimbar menuju belas kasih yang nyata bagi kaum terpinggirkan.
Edward Norman, seorang pemimpin redaksi surat kabar terkemuka yang dihadapkan pada ancaman kebangkrutan finansial ketika memutuskan untuk menolak iklan miras dan berita sensasional yang merusak moral.
Rachel Winslow, penyanyi sopran bertalenta luar biasa yang rela melepas tawaran karier gemilang di panggung demi melayani jiwa-jiwa yang terluka di kawasan kumuh The Rectangle.
Virginia Page, seorang wanita muda kaya raya dari kalangan bangsawan yang belajar menggunakan warisan dan pengaruh sosialnya untuk memulihkan martabat sesama yang tertindas.
Tokoh-tokoh pengusaha, pejabat kota, dan pekerja kereta api yang harus memilih antara integritas iman atau mempertahankan posisi kedudukan mereka.
Ditulis lebih dari seabad yang lalu, Mengikuti Jejak-Nya tetap menjadi salah satu karya sastra Kristen paling berpengaruh di dunia. Sheldon tidak menawarkan kisah moralitas yang picik atau dangkal, melainkan menelanjangi kesenjangan antara kesalehan acara gerejawi dengan panggilan murid sejati.
Bagi pembaca di Indonesia hari ini, kisah ini menjadi cermin yang tajam sekaligus memulihkan: bagaimana seharusnya gereja dan setiap orang percaya hadir di tengah realitas sosial, kemiskinan, ketidakadilan, dan tantangan etika kehidupan sehari-hari?
Selamat menyelami kisah ini bab demi bab, dan kiranya perenungan di dalamnya menjadi berkat serta peneguh langkah bagi iman kita bersama.
Bab Satu: Tamu Henry Maxwell (Sudah Tersedia)
Bab Dua: Pertemuan Pertama (Segera Hadir)
Bab Satu: Tamu Henry Maxwell
Bab Dua: Pertemuan Pertama
Bab Tiga: Pilihan Edward Norman
Bab Empat: Perubahan Arah "News"
Bab Lima: Pilihan Alexander Powers
Bab Enam
Bab Tujuh
Bab Delapan
Bab Sembilan
Bab Sepuluh
Bab Sebelas
Bab Dua Belas
Bab Tiga Belas
Bab Empat Belas
Bab Lima Belas
Bab Enam Belas
Bab Tujuh Belas